JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan terhadap rupiah pada awal perdagangan pekan ini. Mata uang Negeri Paman Sam itu kini berada di level Rp 16.100-an.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (17/2/2025) pukul 09.10 WIB, dolar AS melemah 58,50 poin atau turun 36% dari pembukaannya, sehingga bertengger di level Rp 16.192.
Pergerakan dolar AS terhadap mata uang Asia lainnya juga menunjukkan variasi. Dolar AS terpantau menguat terhadap won Korea Selatan sebesar 0,01% dan peso Filipina sebesar 0,03%. Namun, mata uang AS ini melemah terhadap sejumlah mata uang utama Asia lainnya, seperti:
- Dolar Taiwan (-0,05%)
- Rupee India (-0,09%)
- Ringgit Malaysia (-0,19%)
- Yuan China (-0,07%)
- Baht Thailand (-0,08%)
- Yen Jepang (-0,30%)
- Dolar Singapura (-0,03%)
- Dolar Hong Kong (-0,03%)
Faktor Penyebab Pelemahan Dolar AS
Pelemahan dolar AS ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
-
Kebijakan Moneter The Fed
Bank Sentral AS (Federal Reserve) saat ini tengah mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneternya dengan potensi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini melemahkan daya tarik dolar AS sebagai aset investasi. -
Data Ekonomi AS yang Kurang Memuaskan
Laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang melambat serta inflasi yang mulai terkendali. Data ini menambah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi. -
Arus Modal ke Pasar Asia
Investor global mulai mengalihkan dana mereka ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan aset berdenominasi dolar AS. -
Stabilitas Rupiah dan Intervensi Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) terus melakukan berbagai langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah di tengah gejolak global. Cadangan devisa yang kuat serta kebijakan moneter yang prudent membantu menjaga stabilitas mata uang Indonesia.
Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Pelemahan dolar AS dan penguatan rupiah memiliki beberapa dampak bagi perekonomian Indonesia, antara lain:
-
Harga Barang Impor Lebih Murah
Dengan menguatnya rupiah, harga barang impor seperti elektronik, bahan baku industri, dan produk konsumsi bisa lebih terjangkau bagi masyarakat. -
Tekanan terhadap Ekspor
Meskipun menguntungkan bagi impor, rupiah yang lebih kuat dapat menekan daya saing ekspor Indonesia karena harga produk lokal menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. -
Potensi Penurunan Harga BBM dan Barang Konsumsi
Jika tren penguatan rupiah berlanjut, harga bahan bakar minyak (BBM) serta barang-barang konsumsi yang bergantung pada impor bisa mengalami penurunan dalam beberapa waktu ke depan.
Pelemahan dolar AS ini memberikan peluang bagi ekonomi Indonesia untuk terus tumbuh dengan stabil. Namun, pelaku pasar dan pemerintah tetap harus waspada terhadap potensi perubahan arah kebijakan global yang bisa kembali menguatkan dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.[]
Putri Aulia Maharani