Setelah di Saudi, Pejabat Rusia dan AS Dijadwalkan Bertemu di Turki

Setelah di Saudi, Pejabat Rusia dan AS Dijadwalkan Bertemu di Turki

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengumumkan rencana pertemuan antara perwakilan Rusia dan Amerika Serikat (AS) di Istanbul, Turki. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari perundingan yang sebelumnya telah dilakukan di Arab Saudi.

Lavrov menyatakan bahwa diplomat serta pakar tingkat tinggi dari kedua negara akan berdiskusi mengenai berbagai persoalan sistemik yang selama ini menghambat hubungan diplomatik antara Rusia dan AS. Menurutnya, kebijakan pemerintahan AS sebelumnya telah menciptakan berbagai hambatan bagi aktivitas Kedutaan Besar Rusia. Sebagai tanggapan, Moskow juga menerapkan langkah-langkah serupa yang berdampak pada operasional Kedutaan Besar AS di Rusia.

Harapan Rusia dalam Pertemuan di Istanbul

Lavrov berharap pertemuan di Istanbul dapat memberikan kejelasan terkait sejauh mana kedua negara dapat bergerak cepat dan efektif dalam menyelesaikan permasalahan diplomatik. Selain itu, ia juga menyinggung konflik Israel-Palestina yang masih berlangsung dan menjadi perhatian utama Rusia.

Menurut Lavrov, Moskow sangat prihatin dengan tindakan militer Israel yang melampaui ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata. Ia menilai tindakan tersebut menciptakan ketegangan di lapangan serta bertentangan dengan perjanjian yang telah disepakati dengan Hamas dan Lebanon.

“Kami sangat prihatin bahwa setiap hari tentara Israel mengambil langkah-langkah tambahan yang tidak diatur dalam perjanjian dengan Hamas dan Lebanon, serta menciptakan fakta di lapangan yang bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB,” ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (26/2/2025).

Dukungan Rusia terhadap Palestina

Rusia, bersama Qatar, menyatakan dukungannya terhadap kemajuan dalam pembentukan negara Palestina. Menurut Lavrov, salah satu langkah utama dalam penyelesaian konflik ini adalah memastikan hak warga Palestina untuk tetap tinggal di tanah mereka.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa Rusia tengah berdialog secara intensif dengan Liga Arab untuk membahas langkah-langkah strategis guna mencapai solusi yang adil bagi Palestina. Lavrov berharap pertemuan puncak Liga Arab yang akan datang di Kairo dapat menghasilkan keputusan signifikan terkait masa depan Jalur Gaza.

“Negara-negara Arab berupaya melindungi hak warga Palestina untuk tinggal di tanah mereka. Kami akan memanfaatkan pengaruh kami di panggung internasional, termasuk di dalam PBB, untuk memastikan proses ini berjalan maju secara konstruktif,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa pertemuan gabungan antara Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 14 Maret 2025 di Istanbul akan menjadi forum penting dalam membahas berbagai permasalahan di kawasan, termasuk hubungan antara Israel dengan Palestina, Lebanon, serta Suriah.

Sikap Rusia terhadap Konflik Ukraina

Dalam kesempatan yang sama, Lavrov juga menyoroti konflik antara Rusia dan Ukraina. Ia menegaskan bahwa Moskow menunggu sikap Eropa yang lebih realistis dan tidak lagi menyalahkan Rusia atas kebuntuan dalam negosiasi perdamaian.

Lavrov mengkritik kebijakan negara-negara Eropa yang menurutnya masih berorientasi pada konfrontasi dengan Rusia. Ia menilai bahwa bantuan militer yang terus diberikan kepada Ukraina hanya memperpanjang konflik dan tidak membawa solusi damai.

“Setiap kali keseimbangan politik di Ukraina mulai bergeser, Eropa segera mengumumkan paket bantuan militer baru yang besar bagi Kyiv dan mendorongnya untuk terus berperang,” kata Lavrov.

Ia juga menuding bahwa pemerintah Ukraina telah berupaya menghapus identitas Rusia melalui berbagai kebijakan, termasuk di bidang pendidikan, media, dan budaya. Lavrov menekankan bahwa bagian dari Ukraina yang masih dipengaruhi oleh Rusia harus terbebas dari kebijakan diskriminatif tersebut.

Menanggapi wacana pengerahan pasukan Eropa ke Ukraina, Lavrov menilai bahwa usulan tersebut merupakan langkah yang tidak tepat. Ia mengkritik Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang menurutnya telah salah menafsirkan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, terkait konflik di Ukraina.

“Pendekatan yang didorong terutama oleh Prancis dan Inggris lebih berorientasi pada peningkatan konflik daripada meredakannya. Gagasan seperti menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Ukraina tidak akan berhasil. Kunci penyelesaian konflik ini terletak pada penanganan akar masalahnya,” tegasnya.

Lavrov menekankan bahwa Rusia tetap berkomitmen untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak di kawasan tersebut, termasuk dalam konteks konflik di Timur Tengah dan ketegangan dengan Ukraina.[]

Putri Aulia Maharani

Nasional