Ukraina Berikan Tanah Langka ke AS, Zelensky Dinilai Ceroboh

Ukraina Berikan Tanah Langka ke AS, Zelensky Dinilai Ceroboh

KYIV – Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengkritik keputusan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menyetujui penyerahan mineral tanah langka negaranya kepada Amerika Serikat (AS). Petro menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang merugikan Ukraina dan menyebut Zelensky telah menyerahkan negaranya ke Washington.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, menuntut Ukraina membayar kembali bantuan militer dan ekonomi yang telah diberikan Washington selama perang melawan Rusia. Sebagai kompensasi, AS meminta akses terhadap cadangan mineral tanah langka Ukraina dengan nilai mencapai 500 miliar dolar AS.

Pemerintah Ukraina awalnya menolak permintaan tersebut dan mempertanyakan jumlah kompensasi yang diminta AS. Namun, laporan terbaru mengungkapkan bahwa Kyiv akhirnya menyetujui kesepakatan itu. Zelensky dikabarkan akan mengunjungi Washington dalam waktu dekat untuk menandatangani perjanjian tersebut.

Kritik dari Presiden Kolombia

Melalui unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter), Petro secara terbuka mengkritik keputusan Zelensky. Ia menyebut bahwa kesepakatan ini menunjukkan bahwa Ukraina akhirnya menyerahkan diri ke AS setelah berperang melawan Rusia.

“Mereka bertempur melawan saudara-saudara Slavia mereka, tetapi pada akhirnya, mereka menyerahkan Ukraina kepada Amerika,” tulis Petro.

Selain itu, ia juga menyoroti pengaruh negara-negara Eropa Barat dalam konflik yang berlangsung, dengan menyebut bahwa mereka tidak memiliki arah yang jelas dalam menentukan kebijakan terhadap Ukraina.

“Kebodohan Zelensky, dan saya katakan ini dengan jelas, adalah karena ia membiarkan dirinya dimanipulasi oleh negara-negara Eropa Barat, yang bahkan tidak tahu ke mana mereka akan pergi—ke arah Hitler atau ke arah yang tidak ada,” ujarnya.

Kesepakatan yang Kontroversial

Kesepakatan mengenai mineral tanah langka ini diusulkan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, saat berkunjung ke Kyiv pada awal Februari 2025. Dalam usulan awalnya, AS meminta bagian senilai 500 miliar dolar AS dari hasil eksploitasi mineral tersebut.

Zelensky pada awalnya menolak permintaan itu, terutama karena kesepakatan tersebut tidak mencakup jaminan keamanan dari AS. Namun, laporan terbaru dari Financial Times mengungkapkan bahwa Washington akhirnya menarik permintaan nilai kompensasi sebesar 500 miliar dolar AS.

Sebagai gantinya, kesepakatan akhir menyatakan bahwa Ukraina akan mendirikan dana khusus yang mengalokasikan 50 persen dari pendapatan hasil eksploitasi sumber daya mineral negara tersebut, termasuk minyak, gas, dan logistik terkait. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk investasi di industri dalam negeri Ukraina.

Trump sendiri menyatakan bahwa perjanjian ini merupakan langkah yang menguntungkan bagi AS, karena dapat mengembalikan sebagian besar uang yang telah dikeluarkan untuk membantu Ukraina dalam konflik dengan Rusia.

“Saya dengar dia (Zelensky) akan datang pada hari Jumat. Tentu saja, saya setuju jika dia ingin menandatanganinya bersama saya. Saya paham bahwa ini adalah masalah besar, masalah yang sangat besar… Pembayar pajak Amerika sekarang akan mendapatkan kembali uang mereka,” kata Trump.

Perjanjian ini tetap menjadi perdebatan di kalangan pengamat geopolitik dan ekonomi. Beberapa pihak menilai bahwa Ukraina tidak memiliki banyak pilihan selain menyetujui kesepakatan tersebut, mengingat ketergantungannya pada bantuan dari negara-negara Barat dalam menghadapi agresi Rusia.

Sementara itu, pihak yang menentang kebijakan ini berpendapat bahwa kesepakatan tersebut dapat membuat Ukraina semakin tergantung pada AS dan kehilangan kendali atas sumber daya alam strategisnya.

Dengan berbagai pro dan kontra yang menyertainya, langkah Zelensky dalam menyetujui kesepakatan ini diperkirakan akan menjadi salah satu keputusan politik paling berpengaruh bagi Ukraina dalam beberapa tahun ke depan.[]

Putri Aulia Maharani

Nasional