SAMARINDA ULU – Ahmad Husni (41), seorang pria asal Samarinda, mengalami luka bacok serius di bagian punggung setelah diduga terlibat cekcok dengan rekannya. Insiden yang terjadi pada Jumat (24/1) malam itu kini tengah diselidiki oleh aparat kepolisian.
Peristiwa bermula sekitar pukul 20.00 Wita, ketika sebuah ambulans relawan melintas di kawasan Jalan Pahlawan, Samarinda Ulu. Relawan mendapati Ahmad dalam kondisi terluka parah, tengah dibonceng seseorang. Luka di punggung Ahmad cukup dalam hingga membuat relawan segera memberikan bantuan.
“Awalnya korban minta diantar ke kawasan Air Putih. Tapi melihat kondisinya yang cukup parah, kami langsung membawanya ke RSUD AW Sjahranie karena itu rumah sakit terdekat,” ujar Reza, salah satu anggota tim relawan.
Setibanya di RSUD AW Sjahranie, Ahmad langsung mendapatkan penanganan medis. Dalam kondisi syok, ia sempat memberikan keterangan awal bahwa ia menjadi korban pembacokan di kawasan Jembatan Baru, Jalan Agus Salim, Sungai Pinang Luar.
“Katanya dia dibacok di Jembatan Baru. Tapi soal penyebab dan masalah apa, dia tidak cerita banyak. Kami juga tidak tahu bagaimana awalnya,” tambah Reza.
Informasi sementara menyebutkan bahwa insiden ini terjadi setelah cekcok antara Ahmad dan rekannya, yang berujung pada tindakan kekerasan dengan senjata tajam. Namun, detail motif dan identitas pelaku masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Mendapat laporan tersebut, Polsekta Sungai Pinang langsung bergerak ke lokasi untuk menyelidiki kasus ini. Petugas mulai mengumpulkan keterangan saksi dan menelusuri lokasi kejadian untuk mencari bukti tambahan.
“Kami telah menerima laporan penganiayaan ini dan sedang menyelidiki lebih dalam. Saat ini, kami fokus mengumpulkan bukti serta keterangan saksi di sekitar lokasi kejadian,” jelas Kapolsekta Sungai Pinang AKP Aksarudin Adam melalui Kanit Reskrim Ipda Heri Trianto.
Sementara itu, Ahmad masih dirawat intensif di RSUD AW Sjahranie. Tim medis memastikan korban mendapatkan perawatan optimal untuk memulihkan luka parah yang dideritanya. []
Putri Aulia Maharani