JAKARTA — Upaya mengembalikan jaringan telekomunikasi di Aceh memasuki tahap pemulihan intensif setelah banjir besar merusak sejumlah infrastruktur vital di wilayah tersebut. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, memastikan perbaikan berjalan cepat dan ditargetkan sebagian besar Base Transceiver Station (BTS) dapat kembali aktif dalam beberapa hari ke depan.
Nezar menyampaikan perkembangan tersebut ketika meninjau langsung lokasi terdampak di beberapa kabupaten. Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa kondisi jaringan sangat dipengaruhi oleh pemadaman listrik yang melanda wilayah itu.
“Kita sudah koordinasi dengan PLN dan Pertamina, semoga pekan ini 75-90 persen BTS dapat menyala kembali,” kata Nezar melalui siaran pers, Jumat (05/12/2025). Menurutnya, sekalipun beberapa BTS masih berdiri kokoh, banjir tetap menghambat fungsinya, sedangkan BTS yang berada di dataran tinggi relatif lebih aman.
Selain listrik, gangguan pada jaringan telekomunikasi juga dipicu putusnya jalur Fiber Optik (FO) akibat sejumlah jembatan yang ambruk. Kondisi tersebut memutus aliran komunikasi antarwilayah termasuk jalur penghubung antarkabupaten. Dari total 3.443 BTS di Aceh, Nezar menyebut sekitar 51 persen sudah kembali beroperasi.
“BTS di seluruh Aceh umumnya terganggu fungsinya karena ketiadaan listrik. Sekarang sudah diatasi separuhnya bisa menyala,” jelasnya.
Selama kunjungannya, pemerintah pusat juga membawa bantuan peralatan komunikasi darurat. Di Pidie Jaya, Nezar menyerahkan satu unit Starlink dan satu genset kepada Bupati Pidie Jaya untuk memperkuat komunikasi di posko bencana. Ia menekankan bahwa fasilitas ini sangat dibutuhkan agar distribusi bantuan dan koordinasi relawan berjalan tanpa hambatan.
Tim kemudian bergerak ke Bireuen dan singgah di Posko Bencana Kabupaten Bireuen. Di lokasi tersebut, Nezar kembali menyerahkan satu unit Starlink dan genset untuk digunakan pemerintah daerah. Tak hanya itu, dua unit Starlink lainnya serta satu genset diberikan kepada Dandim Bireuen untuk diteruskan ke Danrem Lilawangsa di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.
“Kita titipkan ke Danrem yang nantinya akan membantu komunikasi di daerah Lokop, Aceh Timur. Di sana ada lima desa hilang disapu banjir. Alat telekomunikasi sangat dibutuhkan,” ujar Nezar.
Dari Bireuen, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Juli, tempat jembatan penghubung menuju Kabupaten Bener Meriah mengalami kerusakan berat. “Jembatan kokoh ini bahkan terputus separuh. Bener Meriah terisolir,” kata Nezar. Kondisi itu membuat akses bantuan mendesak dilakukan melalui jalur darurat.
Untuk membantu warga tetap terkoneksi, satu unit Starlink diserahkan kepada relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sementara itu, satu unit Starlink lainnya dan satu genset dikirim ke Bener Meriah menggunakan keranjang yang digerakkan melalui kabel bentang yang dibuat warga secara swadaya.
“Kita seberangkan satu unit Starlink dan genset ke wilayah Bener Meriah melalui keranjang yang bergulir melalui kabel itu, semoga membantu memulihkan komunikasi di masa tanggap darurat,” ujarnya.
Dengan pemulihan jaringan yang terus dilakukan, pemerintah optimistis komunikasi publik, koordinasi penanganan bencana, serta layanan darurat dapat kembali berjalan normal dalam waktu dekat. []
Diyan Febriana Citra.

