Balai Pelatihan Disulap Jadi Klinik Produktivitas Mulai 2026

Balai Pelatihan Disulap Jadi Klinik Produktivitas Mulai 2026

Bagikan:

JAKARTA — Pemerintah mulai menyiapkan perubahan besar dalam ekosistem peningkatan keterampilan tenaga kerja nasional. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa upaya peningkatan produktivitas tidak lagi hanya bergantung pada pelatihan kerja tradisional, tetapi juga melalui pendekatan baru yang lebih terukur dan berbasis kebutuhan industri.

Dalam acara Naker Inspirational Leadership Award 2025, Senin malam (08/12/2025), Yassierli mengumumkan bahwa pemerintah akan mengalihkan fungsi balai pelatihan kerja dan balai pelatihan vokasi yang tersebar di berbagai provinsi menjadi klinik produktivitas. Transformasi ini akan mulai berjalan tahun depan dan dirancang untuk memfasilitasi perusahaan, terutama di segmen menengah, untuk meningkatkan daya saing.

“Balai-balai yang ada di provinsi, balai besar, balai pelatihan vokasi kita akan fungsikan sebagai klinik produktivitas,” ujar Yassierli dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam peningkatan produktivitas nasional yang mulai diterapkan secara penuh pada 2026. Fokusnya diarahkan kepada perusahaan beromzet Rp5–50 miliar dengan jumlah tenaga kerja sekitar 20–100 orang. Segmen ini dinilai memiliki ruang pertumbuhan terbesar dan dapat memberi efek berantai terhadap produktivitas nasional.

“Tahun depan kita akan mulai intervensi untuk peningkatan produktivitas, kita akan fokus pada perusahaan skala menengah. Mereka yang omsetnya Rp5-50 miliar, dan tenaga kerja kira-kira 20-100 orang. Target intervensi itu peningkatan produktivitas sampai 30%,” paparnya.

Untuk memperkuat fungsi klinik produktivitas, Yassierli menyebut bahwa pemerintah akan menyiapkan model pelatihan yang lebih aplikatif. Salah satu langkahnya adalah menambahkan teaching factory pada balai pelatihan sehingga program pendampingan dapat disesuaikan langsung dengan kebutuhan spesifik industri.

“Kami akan fokus ke perusahaan menengah, dan balai-balai kita akan hadir dengan teaching factory-nya, untuk klinik produktivitas,” jelasnya.

Selain sarana dan model pelatihannya, pemerintah juga mulai mempersiapkan sumber daya manusia yang akan terlibat dalam pendampingan. Tahun ini Kementerian Ketenagakerjaan telah menjalankan sertifikasi untuk ahli produktivitas serta productivity specialist melalui kerja sama dengan Asian Productivity Organization.

“Tahun ini, kita sudah melakukan sertifikasi ahli produktivitas, dan productivity specialist. Ahli produktivitas, kita baru launching SKKNI, sedangkan productivity specialist, kita bekerjasama dengan Asian Productivity Organization. Sudah melatih 700 orang. Dan tentu angka ini adalah untuk pilot project,” ujar Yassierli.

Ke depan, pemerintah menargetkan perluasan jumlah tenaga ahli secara signifikan agar dapat mendampingi perusahaan menengah di seluruh Indonesia.

“Kita akan teruskan angkanya. Target minimal 5.000 orang ahli produktivitas di Indonesia, untuk mampu menjadi pelatih, menjadi konsultan, untuk sekitar 50.000 perusahaan menengah di Indonesia,” pungkasnya.

Transformasi balai pelatihan ini diproyeksikan menjadi fondasi baru dalam mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja sekaligus mendukung pertumbuhan industri nasional yang lebih kompetitif. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Nasional