PARLEMENTARIA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memantau perkembangan penanganan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau dan Kutai Timur dalam beberapa hari terakhir. Bencana yang terjadi akibat curah hujan tinggi itu mendapat perhatian serius mengingat dampaknya yang cukup luas terhadap aktivitas warga maupun kondisi infrastruktur di daerah terdampak.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan sejak empat hari sebelumnya untuk memastikan penanganan darurat berjalan efektif dan terarah. Ia menegaskan bahwa Pemprov Kaltim bergerak cepat bersama pemerintah daerah serta mengomunikasikan langkah penanganan secara intensif di daerah-daerah yang terdampak banjir.
“Berau dan Kutim kita sudah lakukan koordinasi mulai dari 4 hari yang lalu, kita koordinasikan sejak awal di Telen dan Wahau, kemudian di Berau ada di Segah dan di Kelai,” ujarnya saat ditemui di Folder Air Hitam, Kamis (11/12/2025) pagi.
Menurutnya, tim penanggulangan bencana dari berbagai unsur terus bekerja di lapangan. BPBD menjadi garda terdepan dalam memastikan warga terdampak mendapatkan bantuan dan perlindungan yang memadai.
“Ini kita koordinasikan terus dengan BPBD dan semua sudah tertangani di Wahau dan sudah turun,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama pemerintah daerah. Proses evakuasi telah dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan ketinggian air. Hingga saat ini seluruh warga yang sebelumnya terdampak sudah berhasil diamankan.
“Semua korban ada kurang lebih sekitar 451 jiwa sudah diamankan dan sudah balik kembali ke rumah masing-masing,” ungkapnya.
Selain meninjau penanganan banjir, Pemprov Kaltim juga memperhatikan aspek sosial masyarakat yang setiap tahun menghadapi ancaman serupa. Banjir di sejumlah wilayah tersebut diketahui telah terjadi sejak puluhan tahun lalu, sehingga warga menganggapnya sebagai fenomena tahunan.
“Kalau kami membaca situasi di sana, orang-orang tua itu mengatakan bahwa ini terjadi biasa tahunan setiap tahun dari 20-30 tahun yang lalu,” katanya.
Meski banjir kali ini disebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas pertambangan, Seno Aji menegaskan bahwa perusahaan tambang tetap harus memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasional.
“Artinya memang ini tidak ada relasinya dengan tambang, tapi bagaimanapun juga kita harus aware, tambang harus bertanggung jawab penuh terhadap situasi dan kondisi di lapangan,” tegasnya.
Ia menilai bahwa percepatan perbaikan lingkungan perlu menjadi perhatian seluruh pihak, terutama di kawasan yang berada dekat dengan aktivitas industri ekstraktif. Upaya pemulihan lingkungan dianggap krusial untuk mencegah kerusakan lebih besar di masa mendatang.
“Karena memang kita melihat tambang ini juga aktivitas yang merusak lingkungan,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan bahwa perusahaan tambang memenuhi kewajiban mereka dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Untuk itu harus segera diantisipasi perbaikan lingkungannya oleh tambang itu,” tutupnya. []
Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Agnes Wiguna

