Truk Migran Terbalik di Ethiopia, 22 Orang Tewas

Truk Migran Terbalik di Ethiopia, 22 Orang Tewas

Bagikan:

ETHIOPIA – Tragedi kembali menimpa para pencari kehidupan yang menempuh jalur migrasi berbahaya di kawasan Tanduk Afrika. Sebanyak 22 migran dilaporkan meninggal dunia setelah sebuah truk yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan tunggal dan terbalik di wilayah Afar, Ethiopia, pada Selasa (06/01/2026) pagi waktu setempat. Insiden tersebut sekaligus menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para migran ilegal yang kerap menempuh perjalanan panjang dengan sarana transportasi yang tidak layak.

Selain menelan korban jiwa, kecelakaan tersebut juga menyebabkan sedikitnya 65 orang lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Para korban segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga kini, belum ada laporan rinci mengenai kondisi terakhir para korban luka, termasuk kemungkinan adanya korban dengan kondisi kritis.

Pihak berwenang setempat menyatakan bahwa truk tersebut mengangkut para migran yang diduga menjadi korban praktik penyelundupan manusia. Para penumpang dilaporkan tidak memahami sepenuhnya risiko dan bahaya jalur yang mereka tempuh, terutama di wilayah yang memiliki medan berat dan kondisi geografis ekstrem.

“Kecelakaan itu terjadi ketika sebuah truk terbalik yang mengangkut warga yang disesatkan oleh calo ilegal dan tidak memahami bahaya rute perjalanan,” kata pihak berwenang, dikutip dari AFP, Rabu (07/01/2026).

Wilayah Afar dikenal memiliki kondisi alam yang keras, dengan suhu ekstrem serta infrastruktur jalan yang terbatas. Faktor tersebut menjadikan kawasan ini rawan kecelakaan, terutama bagi kendaraan yang membawa muatan berlebih. Meski demikian, hingga kini pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab pasti kecelakaan, apakah dipicu oleh faktor teknis kendaraan, kondisi jalan, atau kelalaian pengemudi.

Ethiopia sendiri merupakan salah satu titik keberangkatan utama dalam rute migrasi timur. Jalur ini banyak digunakan oleh para migran dari negara-negara di Tanduk Afrika yang berupaya mencari peluang kerja di negara-negara Teluk yang lebih makmur. Keterbatasan lapangan kerja, konflik, serta tekanan ekonomi di negara asal mendorong ribuan orang setiap tahunnya mengambil risiko besar demi harapan kehidupan yang lebih baik.

Rute timur tersebut umumnya melibatkan perjalanan darat yang panjang dan berbahaya sebelum para migran menyeberangi Laut Merah. Sebagian besar migran berangkat dari Djibouti menuju Yaman, lalu melanjutkan perjalanan ke negara-negara Teluk. Dalam banyak kasus, mereka mengandalkan jaringan calo ilegal yang kerap menjanjikan perjalanan aman, namun justru menempatkan para migran dalam situasi berisiko tinggi.

Berdasarkan berbagai laporan internasional, ribuan migran Afrika kehilangan nyawa setiap tahunnya di sepanjang jalur ini, baik akibat kecelakaan, kekerasan, kelaparan, maupun kondisi alam yang ekstrem. Tragedi di Afar ini kembali menambah daftar panjang korban jiwa dalam arus migrasi ilegal di kawasan tersebut.

Peristiwa ini juga memunculkan keprihatinan dari komunitas kemanusiaan internasional yang menyoroti perlunya upaya lebih kuat untuk memerangi praktik penyelundupan manusia. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai bahaya jalur migrasi ilegal dinilai penting untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak di masa mendatang.

Hingga berita ini disusun, otoritas Ethiopia masih melakukan penyelidikan lanjutan untuk mengungkap penyebab kecelakaan serta memastikan identitas para korban. Pemerintah setempat juga diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap jalur-jalur migrasi ilegal guna mencegah tragedi serupa terulang kembali. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional