JAKARTA – Pergerakan pasar saham domestik pada perdagangan Kamis (08/01/2026) pagi menunjukkan dinamika yang relatif terbatas, seiring pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global maupun domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka di zona hijau, meskipun penguatannya terbilang tipis dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat menguat 1,89 poin atau 0,02 persen ke posisi 8.946,70. Penguatan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang cenderung menahan diri untuk tidak melakukan transaksi dalam jumlah besar sambil menunggu kepastian arah pasar. Meski berada di area positif, laju IHSG dinilai masih rapuh karena belum didukung oleh peningkatan volume transaksi yang signifikan.
Berbeda dengan pergerakan indeks utama, kinerja saham-saham unggulan justru menunjukkan tekanan. Indeks LQ45, yang merepresentasikan 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, tercatat melemah pada awal perdagangan. Indeks tersebut turun 0,92 poin atau 0,11 persen ke posisi 870,40. Pelemahan LQ45 menandakan adanya aksi ambil untung (profit taking) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mencatatkan kenaikan.
Perbedaan arah pergerakan antara IHSG dan LQ45 menunjukkan bahwa penguatan pasar tidak terjadi secara merata. Sejumlah saham lapis kedua dan ketiga (second liner dan third liner) diduga menjadi penopang IHSG pada sesi pembukaan. Kondisi ini kerap terjadi ketika investor ritel lebih aktif melakukan transaksi pada saham-saham dengan harga relatif terjangkau, sementara investor institusi memilih bersikap konservatif.
Analis pasar menilai, pergerakan IHSG yang cenderung mendatar di awal perdagangan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, termasuk perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral utama dunia. Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks ke depan.
Di sisi domestik, stabilitas ekonomi makro dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional masih menjadi faktor pendukung pasar saham. Namun demikian, investor tetap memperhatikan dinamika nilai tukar rupiah, pergerakan suku bunga, serta kondisi inflasi yang dapat memengaruhi kinerja emiten ke depan. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian investor memilih strategi wait and see.
Sementara itu, pelemahan indeks LQ45 mengindikasikan adanya tekanan jual pada saham-saham unggulan, terutama dari sektor-sektor tertentu. Aksi jual ini dinilai wajar setelah sejumlah saham mencatatkan kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Investor cenderung merealisasikan keuntungan jangka pendek sambil menunggu momentum baru untuk kembali masuk ke pasar.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati pergerakan IHSG sepanjang sesi perdagangan hari ini. Fluktuasi indeks diprediksi akan tetap terjadi seiring tarik-menarik antara sentimen positif dan negatif. Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham, memperhatikan fundamental perusahaan, serta menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
Ke depan, arah pergerakan pasar saham nasional akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dan respons pelaku pasar terhadap berbagai data ekonomi. Meski IHSG dibuka menguat, konsistensi penguatan masih memerlukan dukungan sentimen positif yang lebih kuat agar mampu mendorong indeks bergerak lebih stabil di zona hijau. []
Diyan Febriana Citra.

