CARACAS – Ketegangan politik yang mencengkeram Venezuela terus berlanjut setelah operasi militer Amerika Serikat pada awal Januari 2026 yang berujung dengan penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Sementara Washington mengklaim memiliki pengaruh signifikan di Caracas, kepemimpinan sementara Venezuela menegaskan sikap kedaulatan yang kuat di tengah tekanan global.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan negaranya tidak akan tunduk kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump meskipun Washington mengklaim berada dalam posisi dominan di negara itu setelah tergulingnya Maduro. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah upacara memperingati 100 warga Venezuela yang tewas dalam serangan AS.
“Kami tidak tunduk atau ditaklukkan,” kata Rodriguez yang dikutip dari AFP, Jumat (09/01/2026).
Dia juga menegaskan bahwa Venezuela akan terus mempertahankan kedaulatannya.
“Tidak ada yang menyerah. Ada pertempuran untuk tanah air,” ujar Rodriguez menanggapi serangan AS yang terjadi pada 3 Januari 2026 lalu.
Klaim Amerika Serikat atas kendali terhadap Venezuela muncul setelah penangkapan Maduro dan pernyataan dari Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahwa pemerintah interim Venezuela akan “terus didikte oleh Amerika Serikat”. “Jelas kami memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara di Venezuela saat ini,” katanya dalam konferensi pers, menurut laporan.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa negaranya akan menjalankan pemerintahan Venezuela sementara hingga masa transisi berikutnya dilakukan. Pengakuan ini muncul dari posisi Washington yang ingin memastikan stabilitas politik serta keamanan sumber daya energi negara itu, terutama minyak, yang merupakan komoditas utama Venezuela.
Namun, Rodríguez menolak keras narasi tersebut. Dalam sejumlah pernyataannya di media nasional, dia menegaskan bahwa pemerintahan Venezuela tetap dijalankan oleh otoritas nasional dan bukan agen asing.
“Pemerintah Venezuela yang berkuasa di negara kita, dan bukan orang lain. Tidak ada agen asing yang memerintah Venezuela,” ujarnya, menjawab klaim keterlibatan luar.
Sikap tegas Rodriguez mendapat dukungan dari sejumlah negara sahabat, termasuk Rusia yang menyatakan solidaritas penuh terhadap pemerintahan interim Venezuela dan menegaskan pentingnya menjunjung kedaulatan negara tersebut. Pernyataan solidaritas dari Rusia ini disampaikan sebagai kritik implisit terhadap intervensi AS dan seruan untuk menyelesaikan konflik melalui dialog yang menghormati hukum internasional.
Situasi ini menggambarkan betapa kompleksnya hubungan internasional di balik krisis politik Venezuela. Sementara Washington menekankan pengaruhnya atas pemerintahan sementara demi stabilitas dan akses energi, Caracas berupaya mempertahankan citra kedaulatan nasional yang tidak tunduk kepada tekanan luar. Di tengah dinamika itu, langkah berikutnya dalam upaya diplomasi maupun negosiasi multilateral akan menentukan arah baru hubungan kedua negara serta masa depan politik Venezuela sendiri. []
Diyan Febriana Citra.

