Gunung Sampah di Filipina Longsor, Satu Tewas dan Puluhan Pekerja Hilang

Gunung Sampah di Filipina Longsor, Satu Tewas dan Puluhan Pekerja Hilang

Bagikan:

MANILA – Tragedi longsornya gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw Landfill, Cebu, Filipina, kembali menyoroti persoalan serius pengelolaan limbah di kawasan perkotaan negara tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (08/01/2026) malam itu menewaskan seorang perempuan berusia 22 tahun dan menyebabkan sedikitnya 38 orang dilaporkan hilang. Sebagian besar korban diduga merupakan pekerja yang sehari-hari mencari nafkah di area pembuangan sampah tersebut.

Berdasarkan laporan BBC, longsoran terjadi secara tiba-tiba ketika aktivitas masih berlangsung di lokasi. Hingga Jumat (09/01/2026), penyebab pasti runtuhnya tumpukan sampah setinggi gunung tersebut belum dapat dipastikan. Namun, sejumlah pihak menilai kondisi TPA yang tidak memenuhi standar keselamatan menjadi faktor utama yang memperbesar risiko bencana.

Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan. Sekitar 300 personel dari berbagai lembaga pemerintah, aparat keamanan, serta kelompok sipil diterjunkan ke lokasi kejadian. Sejumlah alat berat seperti ekskavator dikerahkan untuk menyingkirkan timbunan sampah, sementara ambulans dan truk pemadam kebakaran disiagakan untuk menangani korban yang berhasil ditemukan.

Wali Kota Cebu, Nestor Archival, memastikan seluruh unsur pemerintah daerah bekerja maksimal dalam proses evakuasi.

“Semua tim respons terus terlibat sepenuhnya dalam upaya pencarian dan penyelamatan untuk menemukan orang-orang yang masih hilang,” kata Archival dalam unggahan di Facebook, Jumat (09/01/2026).

Di tengah upaya penyelamatan, kritik keras terhadap pengelolaan TPA Binaliw Landfill mulai bermunculan. Anggota Dewan Kota Cebu, Joel Garganera, menyebut peristiwa tersebut kemungkinan besar dipicu oleh praktik pengelolaan sampah yang tidak sesuai aturan. Menurutnya, operator TPA diduga melakukan penggalian di dalam tumpukan sampah untuk menambang tanah, kemudian kembali menumpuk limbah di atasnya hingga membentuk gunungan baru yang tidak stabil.

Garganera menilai kondisi tersebut sangat berbahaya, terlebih jika tidak disertai sistem pengamanan dan pemantauan yang memadai. “Itu bukan tempat pembuangan sampah yang sanitasi. Itu sudah menjadi tempat pembuangan sampah terbuka,” ujarnya.

Kasus longsornya gunung sampah bukan kali pertama terjadi di Filipina. Negara kepulauan itu kerap menghadapi persoalan penumpukan limbah, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi. Cebu, sebagai pusat perdagangan dan pintu gerbang transportasi utama di wilayah Visayas, menghasilkan volume sampah yang besar setiap hari. Keterbatasan lahan serta lemahnya pengawasan membuat pengelolaan sampah menjadi tantangan berkelanjutan.

Tragedi di TPA Binaliw Landfill juga memicu keprihatinan publik terkait keselamatan para pekerja informal yang menggantungkan hidup dari aktivitas pemilahan sampah. Banyak di antara mereka bekerja tanpa perlindungan memadai, menghadapi risiko kesehatan dan keselamatan yang tinggi.

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan limbah. Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa praktik pembuangan sampah yang tidak memenuhi standar dapat berujung pada bencana kemanusiaan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional