LONDON — Uni Eropa bersiap mengambil langkah diplomatik terkoordinasi menyusul rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaitkan kebijakan tarif impor dengan isu Greenland. Dewan Eropa memastikan akan menggelar pertemuan luar biasa dalam waktu dekat untuk merespons kebijakan tersebut, yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas hubungan transatlantik dan keamanan kawasan Arktik.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan bahwa keputusan mengadakan pertemuan khusus itu diambil setelah mempertimbangkan dinamika politik dan ekonomi global yang berkembang cepat. Menurutnya, koordinasi di tingkat tertinggi diperlukan agar negara-negara anggota Uni Eropa memiliki sikap yang solid dan sejalan.
“Mengingat pentingnya perkembangan terkini dan guna memperkuat koordinasi, saya putuskan untuk menggelar pertemuan luar biasa Dewan Eropa dalam beberapa hari mendatang,” tulis Costa di platform X pada Minggu (18/01/2026).
Dalam pernyataannya, Costa menegaskan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar yang selama ini menjadi fondasi kerja sama kawasan, mulai dari penghormatan terhadap hukum internasional hingga perlindungan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan nasional. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas Uni Eropa terhadap Denmark dan Greenland di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Ia mengatakan negara-negara anggota Uni Eropa menegaskan kembali komitmen terhadap persatuan, hukum internasional, integritas teritorial, dan kedaulatan nasional, serta solidaritas dengan Denmark dan Greenland, termasuk menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan Arktik, khususnya melalui NATO.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran Eropa bahwa isu Greenland tidak semata persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan keamanan strategis di kawasan Arktik yang semakin menjadi perhatian global. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai geopolitik tinggi, baik dari sisi pertahanan, jalur pelayaran, maupun sumber daya alam.
Costa menambahkan bahwa para anggota Dewan Eropa memandang kebijakan tarif yang direncanakan Washington sebagai langkah yang kontraproduktif bagi hubungan dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Menurutnya, kebijakan itu tidak sejalan dengan perjanjian dagang yang telah disepakati kedua belah pihak.
Costa menambahkan bahwa para anggota menilai tarif tersebut akan merusak hubungan transatlantik dan tidak sejalan dengan perjanjian dagang Uni Eropa-AS.
Meski demikian, Uni Eropa menegaskan tidak menutup pintu dialog. Negara-negara anggota menyatakan kesiapan menghadapi segala bentuk tekanan atau pemaksaan, seraya tetap membuka ruang komunikasi konstruktif dengan Amerika Serikat terkait isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Rencana pertemuan luar biasa Dewan Eropa ini muncul setelah pernyataan Presiden Trump pada Sabtu yang menyebutkan akan memberlakukan tarif sebesar 10 persen terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Trump juga menyatakan tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni, kecuali tercapai kesepakatan mengenai “pembelian penuh dan total Greenland” oleh Amerika Serikat.
Ancaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pemimpin Eropa. Mereka secara terbuka menolak pendekatan tekanan ekonomi yang dikaitkan dengan isu kedaulatan wilayah. Solidaritas terhadap Denmark kembali ditegaskan sebagai bagian dari komitmen kolektif Uni Eropa.
Sebelumnya, delapan negara Eropa yang disebutkan dalam rencana tarif tersebut telah mengeluarkan pernyataan bersama. Dalam pernyataan itu, mereka mengecam ancaman Amerika Serikat dan menegaskan kembali komitmen terhadap keamanan kawasan Arktik serta penghormatan atas kedaulatan nasional masing-masing negara.
Pertemuan luar biasa Dewan Eropa mendatang diperkirakan akan menjadi forum penting untuk merumuskan langkah lanjutan, baik dari sisi diplomasi, ekonomi, maupun keamanan, guna memastikan kepentingan Eropa tetap terlindungi di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. []
Diyan Febriana Citra.

