Telepon Trump, Al-Sharaa Tegaskan Persatuan Suriah

Telepon Trump, Al-Sharaa Tegaskan Persatuan Suriah

Bagikan:

WASHINGTON – Upaya meredakan ketegangan berkepanjangan di Suriah kembali mengemuka setelah Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa melakukan komunikasi langsung dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Keduanya diketahui berbincang melalui sambungan telepon pada Senin (19/01/2026), dengan fokus pembahasan pada jaminan perlindungan terhadap kelompok Kurdi yang berada di wilayah Suriah.

Percakapan tingkat tinggi tersebut disampaikan secara resmi oleh Kantor Kepresidenan Suriah. Komunikasi itu berlangsung sehari setelah tercapainya kesepakatan penting antara Angkatan Bersenjata Suriah dan pejuang Kurdi, yang selama ini menguasai sejumlah wilayah strategis di Suriah utara dan timur. Pemerintah Suriah menilai dialog dengan AS menjadi langkah krusial untuk memastikan kesepakatan tersebut mendapat dukungan internasional.

“Kedua belah pihak menekankan kebutuhan untuk menjamin hak-hak dan perlindungan orang Kurdi, di dalam negara Suriah, sebagai langkah nyata untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan Suriah,” kata Kantor Kepresidenan Suriah, dilansir AFP, Selasa (20/01/2026).

Sebelumnya, Presiden al-Sharaa telah mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata penuh dengan Kepala Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF), Mazloum Abdi. Kesepakatan ini muncul di tengah dinamika militer yang meningkat, menyusul pergerakan pasukan pemerintah Suriah ke wilayah-wilayah yang selama ini dikuasai kelompok Kurdi di kawasan utara dan timur negara tersebut.

Pengumuman mengenai gencatan senjata disampaikan al-Sharaa pada Minggu (18/01/2026) waktu setempat. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut diambil demi meredakan situasi dan mencegah meluasnya konflik bersenjata yang berpotensi menimbulkan korban sipil serta kerusakan infrastruktur.

“Saya merekomendasikan gencatan senjata total,” kata Sharaa usai bertemu utusan Amerika Serikat, Tom Barrack, di Damaskus.

Meski pertemuan langsung antara al-Sharaa dan Mazloum Abdi sempat tertunda akibat kondisi cuaca buruk, Presiden Suriah menegaskan bahwa substansi kesepakatan telah disetujui kedua belah pihak. Penandatanganan awal dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk menenangkan situasi di lapangan, terutama di wilayah rawan konflik.

“Rinciannya akan diselesaikan pada hari Senin,” kata Sharaa.

Menurut al-Sharaa, kesepakatan tersebut mengacu pada semangat perjanjian yang telah ditandatangani pada Maret lalu. Ia menilai, pendekatan dialog dan kompromi menjadi kunci untuk menjaga persatuan Suriah di tengah keragaman etnis dan politik yang ada.

Lebih jauh, Presiden Suriah juga menyerukan kepada suku-suku Arab yang merupakan mayoritas penduduk di Provinsi Raqa dan Deir Ezzor dua wilayah yang selama ini dikuasai kelompok Kurdi agar tetap menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi oleh situasi yang berkembang. Ia menekankan pentingnya stabilitas sosial demi keberlanjutan proses perdamaian.

Sharaa menyatakan harapannya agar kesepakatan gencatan senjata ini dapat menjadi titik awal bagi pembangunan dan rekonstruksi Suriah pascakonflik. Ia juga menilai kesepakatan tersebut membuka peluang untuk menciptakan keamanan dan stabilitas jangka panjang di negaranya.

“Bahwa Suriah mengakhiri keadaan perpecahannya saat ini dan bergerak menuju keadaan persatuan dan kemajuan,” ujarnya. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional