Pemerintah Optimistis Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2026

Pemerintah Optimistis Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2026

Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah memandang tahun 2026 sebagai momentum penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai solid, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen diyakini tetap berada dalam jangkauan.

Optimisme tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menekankan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Menurutnya, ketersediaan likuiditas yang memadai menjadi fondasi utama agar aktivitas ekonomi dan investasi dapat bergerak lebih cepat dan berkelanjutan.

“Kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup. BI dan Kementerian Keuangan sudah setuju untuk menjaga itu bersama,” ujarnya seusai rapat dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (19/01/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah tidak hanya mengandalkan kebijakan makro, tetapi juga menyiapkan langkah konkret untuk mendorong permintaan domestik sejak awal tahun. Salah satu strategi yang ditempuh adalah mempercepat realisasi belanja negara agar efek penggandanya segera dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat. Percepatan belanja ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi, khususnya pada sektor-sektor produktif yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.

“Saya pastikan program-program belanja pemerintah dibelanjain cepat di awal-awal tahun ini. Habis itu kami akan perbaiki ekonomi dan investasi dengan Satgas Debottlenecking,” ujarnya.

Selain belanja pemerintah, upaya memperlancar arus investasi juga menjadi fokus utama. Satuan Tugas Debottlenecking terus dioptimalkan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan hambatan struktural yang selama ini mengganggu realisasi investasi, baik yang berkaitan dengan perizinan, infrastruktur, maupun koordinasi antarlembaga. Satgas tersebut dijadwalkan menggelar rapat lanjutan dalam waktu dekat guna memastikan tindak lanjut kebijakan berjalan efektif di lapangan.

Menurut Purbaya, target pertumbuhan ekonomi 6 persen bukanlah sasaran yang terlalu ambisius apabila seluruh instrumen kebijakan dijalankan secara konsisten. Ia menekankan bahwa dampak kebijakan ekonomi umumnya bersifat lagging atau baru terasa setelah beberapa bulan diterapkan. Oleh karena itu, kebijakan yang disuntikkan sejak awal 2026 diharapkan mulai menunjukkan hasil nyata pada triwulan pertama hingga pertengahan tahun.

“6 persen enggak terlalu sulit. Ekonomi itu responsnya cenderung agak lambat beberapa bulan. Kalau saya inject sekarang ke sistem (perbankan), mungkin 4 bulan baru kelihatan. Tapi kan Anda lihat, triwulan I 2026 sudah kelihatan, Januari ini lebih bergairah daripada tahun-tahun sebelumnya,” paparnya.

Keyakinan tersebut juga tercermin dari dinamika pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus level 9.133,87 pada perdagangan Senin (19/01/2026). Pencapaian ini dinilai sebagai sinyal positif atas persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan pemerintah.

Purbaya menilai, derasnya arus modal asing yang masuk dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kenaikan IHSG, menurutnya, bukan sekadar fenomena pasar, tetapi juga mencerminkan keyakinan pelaku usaha bahwa kebijakan fiskal dan moneter berjalan seiring dan saling menguatkan.

Dengan kombinasi stabilitas keuangan, percepatan belanja negara, serta upaya berkelanjutan memperbaiki iklim investasi, pemerintah berharap perekonomian nasional mampu tumbuh lebih kuat dan inklusif sepanjang 2026. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Nasional