DAVOS – Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos tidak hanya menjadi ajang pembahasan isu ekonomi global, tetapi juga panggung dinamika politik dan relasi personal antar pemimpin dunia. Salah satu momen yang menyita perhatian publik internasional terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan sindiran kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait penampilannya saat berpidato sehari sebelumnya.
Sindiran tersebut disampaikan Trump di hadapan para pemimpin dunia, pengusaha global, dan tokoh internasional lainnya yang menghadiri WEF di Davos, Swiss, Rabu (21/01/2026). Dalam suasana pidato yang diselingi humor, Trump menyinggung kacamata hitam yang dikenakan Macron saat menyampaikan pidato di dalam ruangan.
“Saya melihatnya kemarin, dengan kacamata hitam yang indah itu. Apa yang sebenarnya terjadi?” kata Trump sambil disambut tawa hadirin, dikutip dari Reuters.
Trump kemudian melanjutkan komentarnya dengan nada bercanda. “Saya menyukainya, saya benar-benar menyukainya. Sulit dipercaya, bukan?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut sontak memancing beragam reaksi, baik di ruang pertemuan Davos maupun di media internasional. Sebagian menilai sindiran Trump sebagai bentuk gaya komunikasi politik khasnya yang sering kali mengaburkan batas antara candaan dan kritik terbuka. Namun, tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai cerminan ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Eropa yang kembali menguat dalam beberapa isu strategis.
Menanggapi sorotan publik soal kacamata hitam tersebut, kantor Presiden Prancis memberikan klarifikasi. Dijelaskan bahwa keputusan Macron mengenakan kacamata hitam gelap dan reflektif saat pidato di dalam ruangan bukanlah pilihan gaya, melainkan alasan medis. Kantor Macron menyebutkan, langkah itu diambil untuk melindungi mata sang presiden akibat pembuluh darah yang pecah.
Meski demikian, penampilan Macron tetap menjadi bahan perbincangan luas di media sosial. Berbagai meme bermunculan tak lama setelah pidatonya. Sebagian warganet justru memuji gaya Macron yang dinilai menyerupai karakter dalam film “Top Gun”, terutama ketika ia menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan Amerika Serikat terkait Greenland. Namun, sebagian lainnya menjadikan momen tersebut sebagai bahan olok-olok.
Dalam pidatonya pada Selasa (20/01/2026), Macron secara tegas menyampaikan sikap Prancis terhadap ancaman Washington yang berencana memberlakukan tarif baru. Macron menyebut tekanan tersebut, termasuk yang berkaitan dengan isu Greenland, sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Ia menegaskan Prancis tidak akan tinggal diam.
Macron berjanji Perancis akan melawan “para penindas”.
Di sisi lain, Trump juga memanfaatkan pidatonya di Davos untuk menyinggung isu negosiasi farmasi dengan Prancis. Ia mengklaim mampu meyakinkan sejumlah negara agar membatalkan rencana kenaikan dua kali lipat biaya obat resep buatan Amerika Serikat dalam waktu singkat. Trump bahkan menceritakan secara terbuka bagaimana ia menegur Macron dalam pembahasan tersebut.
“Emmanuel, Anda telah memanfaatkan Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir,” kata Trump kepada Macron.
Ketegangan personal antara kedua pemimpin ini sebelumnya juga terlihat ketika Trump mempublikasikan pesan-pesan pribadi dari Macron ke media sosial. Dalam pesan yang bocor itu, Macron menyebut Trump sebagai “teman saya”. Namun, Macron juga mempertanyakan strategi Presiden AS terkait Greenland dan mengaku tidak memahami arah kebijakan tersebut.
Macron bahkan sempat mengusulkan penyelenggaraan KTT G7 yang diperluas di Paris pada Kamis (22/01/2026), yang direncanakan turut melibatkan pejabat Rusia. Usulan tersebut menambah dinamika hubungan diplomatik di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks.
Insiden sindiran di Davos ini menunjukkan bahwa WEF bukan sekadar forum ekonomi, melainkan juga arena terbuka bagi ekspresi politik, perbedaan pandangan, dan adu pengaruh antar pemimpin dunia. []
Diyan Febriana Citra.

