JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis (22/01/2026) pagi dengan pergerakan positif di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dipengaruhi berbagai sentimen eksternal. Pada awal transaksi, mata uang Garuda menunjukkan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meskipun pelaku pasar tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter negara maju.
“Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (22/01/2026), bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.929 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.936 per dolar AS.”
Penguatan tipis ini mencerminkan respons pasar yang relatif berhati-hati. Sejumlah analis menilai pergerakan rupiah masih berada dalam rentang konsolidasi karena investor menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama masih menjadi faktor penekan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, penguatan di awal perdagangan menunjukkan adanya sentimen positif dari dalam negeri. Stabilitas ekonomi makro Indonesia, inflasi yang terkendali, serta komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor pendukung pergerakan rupiah. BI secara konsisten menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.
Di pasar global, pergerakan dolar AS terpantau cenderung fluktuatif. Investor masih mencermati data ekonomi AS terbaru, termasuk indikator inflasi dan tenaga kerja, yang menjadi dasar pertimbangan arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian pelaku pasar memilih bersikap wait and see, sehingga pergerakan mata uang di kawasan Asia berlangsung terbatas.
Selain faktor global, sentimen regional juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Sejumlah mata uang Asia pagi ini bergerak bervariasi seiring dengan perkembangan ekonomi China dan negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global masih menjadi perhatian, namun optimisme terhadap pemulihan permintaan domestik di beberapa negara berkembang memberikan penopang tambahan.
Dari sisi domestik, pasar juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dalam waktu dekat. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi perekonomian nasional pada awal tahun 2026. Apabila data menunjukkan kinerja yang solid, hal itu berpotensi memperkuat kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk rupiah.
Pelaku pasar menilai penguatan rupiah yang terjadi pada pembukaan perdagangan masih bersifat teknikal dan rentan terhadap perubahan sentimen. Oleh karena itu, volatilitas tetap perlu diantisipasi, terutama jika terjadi perubahan mendadak pada ekspektasi kebijakan moneter global atau gejolak di pasar keuangan internasional.
Ke depan, stabilitas rupiah diperkirakan sangat bergantung pada sinergi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal, serta kemampuan Indonesia menjaga fundamental ekonomi tetap kuat di tengah tantangan global. Dengan dukungan cadangan devisa yang memadai dan kebijakan yang terukur, rupiah diharapkan mampu bertahan dan bergerak stabil meski menghadapi tekanan eksternal. []
Diyan Febriana Citra.

