Pemadaman Listrik di Nuuk Picu Spekulasi Geopolitik

Pemadaman Listrik di Nuuk Picu Spekulasi Geopolitik

Bagikan:

NUUK – Pemadaman listrik besar-besaran yang melanda Nuuk, ibu kota Greenland, pada 24–25 Januari 2026 waktu setempat, memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat. Meski otoritas setempat menegaskan insiden tersebut dipicu gangguan teknis akibat cuaca ekstrem, sebagian warga dan warganet justru mengaitkannya dengan dinamika geopolitik, terutama ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap wilayah strategis di Kutub Utara itu.

Gangguan listrik tersebut berdampak langsung pada sekitar 20.000 penduduk Nuuk. Aktivitas warga terganggu, mulai dari pemadaman lampu rumah tangga, matinya lampu jalan, hingga terhentinya layanan internet dan komunikasi. Mengutip laporan The Chosun Daily, Senin (26/01/2026), sejumlah pengguna media sosial berspekulasi bahwa pemadaman ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan memiliki keterkaitan dengan isu politik internasional.

Spekulasi tersebut berkembang cepat di ruang digital. Beberapa warganet mempertanyakan apakah insiden ini menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan AS terhadap Greenland, bahkan ada yang berseloroh bahwa “invasi telah dimulai”. Meski tidak disertai bukti, narasi tersebut menyebar luas dan memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Situasi semakin sensitif karena pemadaman terjadi tak lama setelah pemerintah Greenland membagikan pedoman kesiapsiagaan krisis kepada warga. Dalam panduan tersebut, masyarakat diimbau menyiapkan persediaan makanan darurat, alat penerangan, baterai cadangan, perlengkapan pemanas, serta kebutuhan pokok lainnya untuk bertahan setidaknya lima hari. Imbauan ini disebut dikeluarkan di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan AS, sehingga menambah lapisan kecemasan publik.

Pemadaman listrik terjadi sekitar pukul 22.30 pada Sabtu (24/01/2026) waktu setempat. Aliran listrik di seluruh wilayah Nuuk terputus hampir bersamaan. Apartemen-apartemen warga dan kawasan pusat kota mendadak gelap gulita, menciptakan suasana mencekam di tengah malam musim dingin.

Pada hari yang sama, Greenland dilanda angin kencang dengan kecepatan mencapai 20 meter per detik. Hembusan angin kuat menyebabkan bangunan bergetar dan sejumlah fasilitas publik mengalami gangguan. Sistem pemanas berbasis listrik lumpuh, akses internet terhenti, dan jaringan komunikasi tidak berfungsi optimal. Bahkan, beberapa bagian bangunan seperti penutup ventilasi dilaporkan terlepas akibat tekanan angin ekstrem.

Menanggapi situasi tersebut, Nukissiorfiit, perusahaan penyedia listrik nasional Greenland, memberikan penjelasan resmi melalui akun media sosialnya. Perusahaan menyebut gangguan terjadi akibat kerusakan pada saluran transmisi yang terhubung dengan pembangkit listrik tenaga air utama, yang terdampak langsung oleh cuaca buruk.

Sekitar lima jam setelah pemadaman, otoritas Greenland menyampaikan bahwa pasokan listrik dan layanan internet di Nuuk telah pulih sekitar 75%. Proses pemulihan penuh dilakukan secara bertahap sambil memastikan keamanan infrastruktur dan keselamatan warga.

Meski penyebab pemadaman telah dijelaskan sebagai dampak angin kencang, insiden ini tetap meninggalkan kekhawatiran mendalam. Bagi sebagian warga, pemadaman tersebut menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur di wilayah Arktik, terutama di tengah perubahan iklim dan dinamika geopolitik global.

Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana kejadian teknis dapat dengan cepat berkembang menjadi isu politik di era digital. Di tengah ketegangan internasional yang terus menjadi sorotan, otoritas Greenland kini dihadapkan pada tantangan ganda: memastikan ketahanan infrastruktur sekaligus menjaga kepercayaan publik agar tidak terjebak dalam spekulasi yang berlebihan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional