Kapal Feri Tenggelam di Filipina Selatan, 8 Orang Tewas

Kapal Feri Tenggelam di Filipina Selatan, 8 Orang Tewas

Bagikan:

MANILA – Insiden tenggelamnya kapal feri kembali menambah daftar panjang kecelakaan laut di Filipina bagian selatan. Sebuah kapal penumpang yang mengangkut ratusan orang dilaporkan karam pada Senin pagi (26/01/2026) saat berlayar di perairan antara Kota Zamboanga dan Pulau Jolo. Peristiwa tragis ini menewaskan sedikitnya delapan orang dan memicu operasi pencarian serta penyelamatan berskala besar.

Kapal feri yang diketahui bernama M/V Trisha Kerstin 3 itu tengah menjalani pelayaran rutin antarpulau ketika kecelakaan terjadi. Kapal membawa total 342 penumpang, termasuk awak, saat musibah melanda. Informasi awal mengenai jumlah korban jiwa disampaikan oleh Wali Kota di Provinsi Basilan, Arsina Laja Kahing-Nanoh, melalui pernyataan resmi di media sosial.

“Sejauh ini terdapat 8 korban jiwa yang terkonfirmasi,” tulis Kahing-Nanoh dalam pernyataannya.

Setelah laporan kecelakaan diterima, aparat setempat bersama penjaga pantai segera mengerahkan tim tanggap darurat ke lokasi. Hingga beberapa jam setelah kejadian, proses evakuasi masih berlangsung. Otoritas menyebutkan setidaknya 138 penumpang berhasil diselamatkan dari laut dan dibawa ke daratan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Meski demikian, proses penyelamatan menghadapi berbagai kendala. Jumlah korban selamat yang membutuhkan perawatan medis dalam waktu bersamaan membuat fasilitas kesehatan di wilayah Basilan kewalahan. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan tenaga medis di daerah tersebut.

“Tantangan utamanya saat ini adalah jumlah pasien yang masuk. Kami sedang kekurangan tenaga medis saat ini,” ujar Ronalyn Perez, petugas tanggap darurat Basilan, kepada AFP.

Perez menambahkan bahwa sedikitnya 18 orang harus dirujuk ke rumah sakit setempat karena mengalami kondisi yang memerlukan penanganan intensif, termasuk hipotermia dan luka akibat benturan saat kapal tenggelam.

Penjaga Pantai Filipina (Philippine Coast Guard/PCG) memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan unit-unit di Mindanao Selatan untuk memperluas area pencarian. Hingga kini, penyebab pasti tenggelamnya kapal masih dalam penyelidikan. Faktor cuaca, kondisi teknis kapal, serta kepadatan penumpang menjadi sejumlah aspek yang tengah dikaji oleh otoritas maritim.

Tragedi ini kembali menyoroti persoalan keselamatan transportasi laut di Filipina. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 7.000 pulau dan populasi sekitar 116 juta jiwa, feri menjadi moda transportasi vital bagi masyarakat. Namun, standar keselamatan yang kerap diabaikan, ditambah cuaca yang sulit diprediksi, membuat kecelakaan laut masih sering terjadi.

Ingatan publik pun kembali tertuju pada tragedi serupa di Filipina Selatan pada 2023, ketika sebuah feri terbakar hebat dan menewaskan lebih dari 30 orang. Insiden-insiden tersebut memunculkan desakan agar pemerintah memperketat pengawasan keselamatan kapal penumpang.

Saat ini, otoritas setempat memanfaatkan sisa waktu siang hari untuk memaksimalkan pencarian terhadap penumpang yang belum ditemukan. Tim medis, relawan, serta aparat keamanan terus bersiaga di sejumlah titik evakuasi. Harapan masih tertuju pada kemungkinan ditemukannya korban selamat tambahan, meski peluang kian menyempit seiring berjalannya waktu. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional