JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Selasa (27/01/2026) menunjukkan sinyal stabilisasi di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Pada pembukaan perdagangan di pasar spot Jakarta, rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Berdasarkan data transaksi awal, rupiah dibuka menguat 2 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp16.780 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.782 per dolar AS. Meski penguatannya relatif terbatas, pergerakan ini dinilai mencerminkan upaya rupiah bertahan di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda.
Penguatan tipis rupiah tersebut terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang masih berhati-hati. Investor global saat ini mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait suku bunga acuan The Federal Reserve. Data ekonomi AS yang masih solid memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, kondisi yang umumnya memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, stabilitas rupiah pada awal perdagangan juga didukung oleh sentimen domestik yang relatif terjaga. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat, terutama dari sisi inflasi yang terkendali serta komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi BI di pasar valas, baik melalui pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), terus menjadi faktor penopang pergerakan rupiah.
Selain faktor moneter, arus modal asing juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Meski aliran dana asing ke pasar keuangan domestik masih fluktuatif, minat investor terhadap instrumen surat utang negara tetap terjaga. Imbal hasil yang kompetitif dan persepsi risiko yang relatif terkendali membuat aset keuangan Indonesia masih menarik di mata investor global.
Namun demikian, sejumlah risiko eksternal masih membayangi pergerakan rupiah ke depan. Ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, termasuk Timur Tengah dan Eropa Timur, berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global. Selain itu, pergerakan harga komoditas dunia, khususnya minyak mentah, juga dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah mengingat dampaknya terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Pelaku pasar menilai, penguatan rupiah yang terbatas pada awal perdagangan mencerminkan keseimbangan antara sentimen positif domestik dan tekanan global yang masih kuat. Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan stabil, selama tidak ada kejutan besar dari arah kebijakan moneter global maupun perkembangan geopolitik.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ekonomi utama, baik dari dalam negeri maupun dari Amerika Serikat. Data inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arah kebijakan bank sentral global akan menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar. Di dalam negeri, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter diyakini tetap menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Dengan kondisi tersebut, penguatan tipis rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa dinilai sebagai sinyal ketahanan di tengah tekanan eksternal, sekaligus mencerminkan optimisme terbatas pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dalam jangka menengah. []
Diyan Febriana Citra.

