ISTANBUL – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan China menunjukkan sinyal penguatan melalui intensitas komunikasi dan rencana pertemuan tingkat tinggi antara kedua kepala negara. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut saling bertukar undangan kunjungan kenegaraan, yang menjadi penanda menghangatnya kembali hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.
Seorang diplomat Washington di Beijing mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah mengundang Xi Jinping untuk melakukan kunjungan resmi ke Amerika Serikat pada akhir tahun ini, dengan kemungkinan waktu pelaksanaan pada Agustus atau September. Informasi tersebut menegaskan adanya komitmen politik kedua negara untuk menjaga dialog strategis di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Di sisi lain, China juga menyampaikan undangan balasan kepada Trump. Duta Besar AS untuk China, David Perdue, menyatakan bahwa Xi Jinping mengundang Presiden Trump untuk berkunjung ke China pada April mendatang. Informasi tersebut disampaikan Perdue kepada Bloomberg dan dikutip Anadolu, Rabu (28/01/2026).
Perdue menilai hubungan kedua negara saat ini berada dalam fase kerja sama yang lebih konstruktif dibandingkan periode sebelumnya. Ia menyebut sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan bilateral tahun lalu sebagian besar telah direalisasikan, terutama dalam isu-isu strategis yang bersifat praktis, seperti penanganan fentanil dan perdagangan komoditas pertanian, termasuk pembelian kedelai oleh China dari Amerika Serikat.
“Dan yang terpenting, mereka (China) benar-benar telah melangkah maju dalam kerja sama penegakan hukum dengan Amerika Serikat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi aparat penegak hukum kedua negara kini memasuki fase baru, khususnya dalam penanganan kejahatan lintas negara.
Diplomat itu menambahkan bahwa lembaga penegak hukum dari kedua negara untuk pertama kalinya bekerja sama memerangi fentanil.
Selain kerja sama teknis, Perdue menekankan adanya perubahan positif dalam pola komunikasi politik antara kedua pemimpin negara. Ia menyebut hubungan personal antara Trump dan Xi menunjukkan kecenderungan yang lebih terbuka dan konstruktif.
Perdue juga mengatakan komunikasi antara kedua presiden menunjukkan adanya kesediaan untuk melakukan lebih banyak interaksi di berbagai bidang.
“Saat ini, kami memiliki tingkat rasa saling menghormati dan kepercayaan,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa intensitas pertemuan kedua pemimpin diperkirakan cukup tinggi sepanjang tahun ini. Ia menyebut Trump dan Xi berpotensi bertemu hingga empat kali dalam berbagai forum internasional.
Sejak Trump dilantik pada Januari tahun lalu, hubungan komunikasi kedua pemimpin memang terbilang aktif. Mereka telah melakukan sejumlah kontak diplomatik, termasuk pertemuan tatap muka pertama pada Oktober di Busan, Korea Selatan, yang kala itu dinilai sebagai pertemuan yang “berhasil.” Selain itu, komunikasi juga berlangsung melalui sambungan telepon di beberapa momentum penting, meskipun hubungan bilateral sempat mengalami pasang surut.
Ketegangan sempat meningkat ketika Washington memberlakukan tarif tinggi terhadap produk China, yang kemudian dibalas oleh Beijing dengan kebijakan serupa. Namun, eskalasi tersebut akhirnya mereda setelah kedua pihak mencabut kebijakan tarif tersebut dan kembali membuka ruang dialog.
Ke depan, forum multilateral juga menjadi panggung penting bagi diplomasi AS–China. China dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada November di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Sementara itu, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Desember di Florida bagian selatan.
Rangkaian agenda internasional tersebut memperlihatkan bahwa hubungan AS dan China kini tidak hanya bergantung pada komunikasi bilateral, tetapi juga diarahkan untuk membangun stabilitas global melalui kerja sama multilateral yang lebih intensif dan terstruktur. []
Diyan Febriana Citra.

