JAKARTA – Menjelang berakhirnya pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan petugas haji, khususnya dalam menjaga kondisi fisik dan kesiapan mental sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa berakhirnya diklat bukan akhir dari proses pembentukan kualitas petugas, melainkan awal dari fase kemandirian dan tanggung jawab personal masing-masing peserta.
Diklat yang berlangsung selama 20 hari secara intensif di Asrama Haji Pondok Gede dijadwalkan resmi ditutup pada Jumat (30/01/2026). Program ini menjadi bagian strategis dari persiapan nasional dalam menghadapi musim haji 1447 H/2026 M, mengingat peran petugas haji sangat menentukan kualitas pelayanan terhadap jamaah Indonesia di Arab Saudi.
Menhaj menyampaikan apresiasi terhadap seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian pelatihan, sekaligus mengungkapkan harapan agar Presiden Prabowo Subianto dapat hadir langsung dalam acara penutupan.
“Alhamdulillah, 20 hari yang ternyata terasa singkat, hampir selesai. Besok teman-teman akan merampungkan tahap ini. Kita berdoa dan bersyukur kepada Allah karena diklat akan selesai, dan harapan besar kami acara ini akan ditutup oleh Bapak Presiden,” ujar Menhaj kepada awak media saat meninjau persiapan penutupan diklat di Lapangan Markas Komando Daerah TNI Angkatan Udara (Makodau) I, Jakarta, Kamis (29/01/2026).
Dalam pandangan Menhaj, diklat tatap muka hanyalah satu tahap dari proses panjang pembinaan petugas haji. Ia menekankan bahwa setelah pelatihan formal berakhir, para peserta justru memasuki fase pembelajaran mandiri yang tidak kalah penting. Salah satu fokus lanjutan adalah penguatan kemampuan bahasa Arab secara daring serta pemantauan kebugaran fisik secara berkelanjutan.
“Kita berharap teman-teman tidak berhenti belajar setelah diklat ini selesai. Masih ada waktu sekitar dua hingga tiga bulan sebelum masa keberangkatan. Waktu ini harus dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran fisik agar benar-benar fit pada saatnya nanti,” kata Menhaj.
Aspek kebugaran menjadi perhatian serius karena kondisi iklim dan medan di Arab Saudi menuntut ketahanan fisik yang baik. Selain itu, Menhaj menekankan pentingnya kesiapan mental dan sikap pelayanan. Menurutnya, petugas haji bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi representasi negara dalam melayani jamaah, sehingga profesionalisme dan empati harus berjalan beriringan.
Dari sisi evaluasi, Menhaj menyebut telah menerima laporan awal mengenai hasil pelatihan.
“Alhamdulillah, saya tadi mendapatkan laporan evaluasi awal, 90 persen hasilnya bagus. Namun, laporan tertulis resmi yang mencakup catatan perkembangan peserta secara detail akan saya terima besok,” ujar Menhaj.
Evaluasi tersebut menjadi dasar seleksi kualitas petugas yang akan diberangkatkan, sehingga hanya mereka yang benar-benar siap secara kompetensi dan mental yang akan mengemban tugas di Tanah Suci.
Sementara itu, panitia pelaksana terus mematangkan persiapan penutupan diklat, termasuk pelaksanaan gladi resik yang melibatkan seluruh peserta. Menhaj menegaskan bahwa kondisi cuaca tidak akan mengurangi kekhidmatan acara.
“Kalau hujan, itu adalah rahmatullah. Kita akan tetap laksanakan. Di Saudi nanti kita akan menghadapi panas, jadi apapun kondisinya, kita harus siap menghadapinya,” kata Menhaj.
Terkait kehadiran Presiden Prabowo Subianto, Menhaj menjelaskan bahwa tim protokol kepresidenan telah melakukan pengecekan lokasi.
“Ada beberapa kriteria dan poin penilaian kehadiran, namun tim protokol sudah mengecek lokasi. Kita berdoa semoga beliau bisa hadir besok,” ujar Menhaj.
Penutupan diklat ini menjadi penanda transisi dari fase pelatihan menuju fase kesiapan operasional. Pemerintah berharap, para petugas haji 1447 H/2026 M tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, ketahanan fisik, dan mentalitas pelayanan yang kuat demi memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah haji Indonesia. []
Diyan Febriana Citra.

