Update Banjir Jakarta Jumat Pagi: Puluhan RT Masih Terendam

Update Banjir Jakarta Jumat Pagi: Puluhan RT Masih Terendam

Bagikan:

JAKARTA – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Ibu Kota sejak akhir Januari 2026 kembali menyoroti kesiapsiagaan sistem drainase, pengendalian sungai, serta kesiapan aparat pemerintah dalam merespons bencana hidrometeorologi. Hingga Jumat (30/01/2026) pagi, genangan air masih ditemukan di puluhan lingkungan permukiman dan sejumlah ruas jalan utama, mengganggu aktivitas warga dan mobilitas perkotaan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 41 rukun tetangga (RT) dan tiga ruas jalan masih terendam banjir. Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan hasil pemantauan hingga pukul 06.00 WIB.

“BPBD mencatat saat ini terdapat 41 RT dan tiga ruas jalan tergenang,” ujar Yohan dalam keterangan tertulisnya.

Genangan air dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak Rabu (28/01/2026) dan berlanjut hingga Kamis (29/01/2026). Selain faktor curah hujan, luapan sejumlah sungai utama seperti Kali Ciliwung, Kali Mookervaart, dan Kali Nagrak turut memperparah kondisi di sejumlah titik rawan banjir.

Wilayah Jakarta Barat tercatat mengalami genangan di delapan RT yang tersebar di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Rawa Buaya, dan Kembangan Selatan, dengan ketinggian air mencapai 20–30 sentimeter. Di Jakarta Selatan, sepuluh RT terdampak di Kelurahan Pejaten Timur, Rawajati, dan Tanjung Barat, dengan ketinggian air yang lebih ekstrem, yakni 100 hingga 330 sentimeter akibat luapan Kali Ciliwung.

Sementara itu, Jakarta Timur menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak, yakni 21 RT yang tersebar di Rawa Terate, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, Cililitan, dan Balekambang. Ketinggian genangan bervariasi antara 50 hingga 350 sentimeter. Di Jakarta Utara, dua RT di Kelurahan Cilincing dan Marunda juga terdampak banjir dengan ketinggian air sekitar 20–30 sentimeter.

Selain permukiman, banjir juga menggenangi tiga ruas jalan, yaitu Jalan Rawa Indah Dua di Kelurahan Pegangsaan Dua, Jakarta Utara (15 cm), Jalan Pulo Raya IV di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan (25 cm), serta Gang Langgar di Kelurahan Rawajati, Jakarta Selatan (150 cm). Kondisi ini menyebabkan gangguan lalu lintas dan aktivitas warga.

Dampak sosial banjir terlihat dari meningkatnya jumlah warga yang harus mengungsi ke lokasi-lokasi penampungan sementara. BPBD mencatat sejumlah titik pengungsian di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur, termasuk masjid, RPTRA, sekolah, hingga musholla yang difungsikan sebagai tempat perlindungan sementara bagi ratusan jiwa terdampak.

Dalam upaya penanganan, BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memantau kondisi genangan di setiap wilayah, melakukan penyedotan air, serta memastikan sistem drainase dan aliran air berfungsi optimal.

“Dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas. Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat,” kata dia.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa banjir Jakarta bukan hanya persoalan cuaca ekstrem, tetapi juga tantangan tata kelola lingkungan, pengendalian sungai, dan sistem drainase perkotaan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan terintegrasi. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional