Starmer Buka Babak Baru Hubungan Inggris–China

Starmer Buka Babak Baru Hubungan Inggris–China

Bagikan:

BEIJING – Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer ke China pada 28–31 Januari 2026 menandai fase baru dalam upaya rekonstruksi hubungan bilateral London–Beijing yang selama satu dekade terakhir mengalami ketegangan. Lawatan ini bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi juga membawa misi strategis untuk memulihkan kepercayaan politik dan membuka kembali peluang kerja sama ekonomi yang sempat terhambat.

Didampingi delegasi besar pelaku usaha Inggris, Starmer menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat, Beijing, Kamis (29/01/2026). Pertemuan tertutup yang berlangsung lebih dari satu jam itu dilanjutkan dengan jamuan makan siang bersama, mencerminkan upaya membangun suasana dialog yang lebih cair dan konstruktif.

Dalam pernyataan publiknya, Starmer menegaskan bahwa kunjungan tersebut memiliki orientasi ganda: kepentingan domestik Inggris dan pemulihan hubungan luar negeri.

“Kunjungan untuk kebaikan rakyat Inggris dan persahabatan dengan China,” cuit Starmer melalui akun X pribadinya, Kamis (29/01/2026).

Dari pihak China, Xi Jinping menekankan pentingnya keteguhan prinsip dalam kepemimpinan global. “Selama itu hal benar yang melayani kepentingan mendasar negara dan rakyat, maka sebagai pemimpin kita tidak boleh menghindari kesulitan dan kita harus terus maju,” ujar Xi. Ia juga menyebut kunjungan ini sebagai sinyal positif bagi masa depan hubungan kedua negara. “Sebentar lagi kami merayakan Tahun Baru. Kunjungan Anda sebuah permulaan yang penuh berkah,” ungkap Xi.

Selain bertemu Xi, Starmer juga mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri China Li Qiang serta Ketua Parlemen China Zhao Leji. Rangkaian pertemuan ini menunjukkan bahwa kunjungan tersebut dirancang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh jalur eksekutif dan legislatif sekaligus.

Pengamat hubungan China dari King’s College London, Kerry Brown, menilai pertemuan ini berpotensi menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis. “Bagi kedua belah pihak, mereka ingin pertemuan ini menyepakati banyak hal,” ujarnya. Brown juga melihat kecenderungan negara-negara sekutu Amerika Serikat mulai membuka kembali jalur hubungan dengan Beijing sebagai bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian kebijakan Washington.

Dalam konteks domestik Inggris, lawatan ini juga menjadi bagian dari strategi politik Starmer. Ia menghadapi tekanan internal akibat stagnasi ekonomi, krisis biaya hidup, serta isu imigrasi yang terus membebani pemerintahan Partai Buruh. Kehadiran lebih dari 50 pemimpin bisnis yang mendampinginya mengindikasikan bahwa dimensi ekonomi menjadi prioritas utama perjalanan ini.

Meski demikian, isu hak asasi manusia tetap masuk dalam agenda pembicaraan. Sebelum tiba di Beijing, Starmer menyatakan akan mengangkat persoalan tersebut dalam dialog dengan Xi Jinping. Namun, fokus diplomasi ekonomi tetap terlihat dominan, seiring besarnya nilai perdagangan bilateral yang mencapai 98,36 miliar dolar AS pada 2024.

Hubungan Inggris–China sebelumnya memburuk akibat kebijakan London yang membatasi investasi China, kritik terhadap situasi Hong Kong, serta kekhawatiran terhadap isu keamanan nasional dan spionase ekonomi. Dukungan Beijing terhadap Rusia dalam konflik Ukraina juga memperlebar jarak politik kedua negara.

Kini, kunjungan Starmer dipandang sebagai langkah pragmatis untuk membuka kembali kanal komunikasi dan kerja sama. Dalam pernyataan kepada delegasi bisnis, ia menegaskan orientasi kebijakannya: “Semua yang saya lakukan di sini fokus untuk memberi manfaat bagi masyarakat Inggris.”

Dengan demikian, lawatan ini tidak hanya menjadi agenda diplomasi luar negeri, tetapi juga instrumen politik domestik dan ekonomi global Inggris dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional