WASHINGTON – Isu kemanusiaan kembali menjadi sorotan dalam konflik berkepanjangan Rusia–Ukraina setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan informal dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait penghentian sementara serangan udara Rusia ke Ukraina. Pengumuman tersebut disampaikan Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Kamis (29/01/2026) waktu setempat, dan langsung menarik perhatian dunia internasional.
Trump menyebut bahwa Putin telah menyetujui permintaannya untuk menghentikan serangan udara ke Kyiv dan sejumlah kota besar lainnya di Ukraina selama satu pekan. Kebijakan ini, menurut Trump, dilatarbelakangi oleh kondisi darurat kemanusiaan yang semakin memburuk akibat cuaca ekstrem yang melanda Ukraina di tengah musim dingin yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah sejak awal invasi.
Krisis energi menjadi persoalan utama yang memperparah situasi. Serangan Rusia terhadap infrastruktur vital, khususnya jaringan listrik dan fasilitas energi, menyebabkan jutaan warga Ukraina kehilangan akses terhadap listrik, pemanas ruangan, dan pasokan air bersih. Dalam kondisi suhu yang berada jauh di bawah titik beku, situasi tersebut dinilai berpotensi mengancam keselamatan warga sipil, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pasien rumah sakit.
Dalam penjelasannya kepada para menteri, Trump menegaskan bahwa faktor kemanusiaan menjadi alasan utama di balik langkah diplomatik tersebut. Ia menilai kondisi cuaca ekstrem di Ukraina saat ini jauh lebih berbahaya dibanding musim dingin biasa, sehingga eskalasi serangan militer hanya akan memperbesar risiko korban jiwa.
“Karena cuaca dingin yang sangat ekstrem, saya secara pribadi meminta Presiden Putin untuk tidak menembaki Kyiv dan kota-kota lainnya selama sepekan ini,” ujar Trump di hadapan para menterinya diutip Channel News Asia, Jumat (30/01/2026).
Trump juga membandingkan situasi tersebut dengan gelombang udara dingin yang sedang melanda Washington, seraya menegaskan bahwa ia dapat membayangkan betapa beratnya kondisi yang dihadapi masyarakat Ukraina tanpa akses pemanas dan listrik di tengah suhu ekstrem.
Ia mengungkapkan bahwa langkah tersebut sempat diragukan oleh sejumlah penasihatnya. Bahkan, beberapa pihak menilai komunikasi langsung dengan Putin tidak akan membuahkan hasil. Namun, Trump menyatakan bahwa Presiden Rusia merespons positif permintaannya, dan hal itu dianggap sebagai langkah kecil yang penting dalam upaya meredam dampak kemanusiaan konflik.
Meski demikian, hingga kini pihak Kremlin belum memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kesepakatan penghentian serangan udara tersebut. Ketiadaan konfirmasi ini menimbulkan keraguan di kalangan pengamat internasional, mengingat hubungan diplomatik antara kedua negara sebelumnya juga kerap diwarnai ketegangan dan kebuntuan dialog.
Di sisi lain, kondisi di Ukraina masih jauh dari stabil. Badan meteorologi setempat memperkirakan suhu udara akan terus menurun hingga mencapai minus 30 derajat celsius dalam beberapa hari ke depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tetap mengingatkan warganya untuk waspada terhadap potensi serangan lanjutan, terutama terhadap fasilitas energi yang masih menjadi target strategis Rusia.
Laporan dari otoritas regional Ukraina bahkan menyebutkan bahwa serangan Rusia tetap menelan korban jiwa. Pada hari yang sama dengan pengumuman Trump, enam orang dilaporkan tewas akibat serangan di wilayah tengah dan selatan Ukraina. Fakta ini memperlihatkan bahwa meskipun ada klaim gencatan senjata sementara, situasi di lapangan tetap berisiko tinggi.
Kini perhatian dunia tertuju pada realisasi “janji sepekan” tersebut. Banyak pihak berharap penghentian sementara serangan udara ini benar-benar terwujud dan dapat memberikan ruang kemanusiaan bagi masyarakat Ukraina untuk bertahan dari musim dingin ekstrem dan konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir lima tahun. []
Diyan Febriana Citra.

