ZINTAN – Peristiwa penembakan yang menewaskan Seif Al Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, kembali mengguncang stabilitas politik dan keamanan di Libya barat. Seif dilaporkan tewas di kediamannya di Kota Zintan, Selasa (03/02/2026) siang, dalam serangan bersenjata yang hingga kini belum diketahui pelakunya.
Kabar kematian Seif pertama kali disampaikan oleh pengacaranya asal Perancis, Marcel Ceccaldi, kepada kantor berita AFP. Dalam keterangannya, Ceccaldi mengungkapkan bahwa kliennya tewas dalam serangan terorganisasi.
“Ia tewas hari ini pukul 14.00 waktu setempat di rumahnya oleh empat orang yang dikomando,” ujar Ceccaldi.
Informasi serupa juga disampaikan oleh penasihat Seif, Abdullah Othman Abdurrahim, kepada stasiun televisi Libya Al Ahrar. Menurutnya, kelompok bersenjata tersebut menyerbu kediaman Seif, menonaktifkan sistem keamanan, lalu melakukan eksekusi. Para pelaku disebut lebih dulu mematikan kamera pengawas (CCTV) sebelum melakukan penembakan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok atau pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Ceccaldi menambahkan bahwa Seif sebenarnya telah menerima peringatan terkait potensi ancaman terhadap keselamatannya. Bahkan, menurutnya, perlindungan sempat ditawarkan oleh tokoh suku setempat.
“Bahkan kepala sukunya sempat menelepon Seif dan berkata, ‘Saya akan kirimkan orang untuk mengamankanmu.’ Namun, Seif menolak,” kata Ceccaldi.
Peristiwa ini memperlihatkan tingginya risiko keamanan yang masih dihadapi Libya, lebih dari satu dekade setelah jatuhnya rezim Muammar Khadafi. Ketidakstabilan politik, konflik antar faksi, serta lemahnya kontrol negara terhadap kelompok bersenjata membuat situasi keamanan di berbagai wilayah tetap rapuh, termasuk di Zintan yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis kekuatan lokal.
Seif Al Islam Khadafi (53) merupakan sosok yang memiliki sejarah panjang dan kontroversial dalam politik Libya. Ia pernah diproyeksikan sebagai calon penerus ayahnya, meski tidak pernah menduduki jabatan resmi dalam struktur pemerintahan. Pada masa kekuasaan Muammar Khadafi, Seif dikenal sebagai figur yang dianggap moderat dan membawa gagasan reformasi, sehingga sempat dipandang sebagai wajah baru rezim.
Namun, citra tersebut berubah drastis saat gelombang Arab Spring melanda Libya pada 2011. Dalam situasi pemberontakan, Seif mengeluarkan pernyataan keras yang menyatakan akan menghadapi para pemberontak dengan kekerasan. Pernyataan itu memperkuat persepsi publik bahwa ia berada di garis depan pertahanan rezim ayahnya.
Tak lama setelah itu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Seif atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia ditangkap pada November 2011 di wilayah Libya selatan. Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan vonis hukuman mati terhadapnya melalui persidangan kilat. Meski demikian, Seif kemudian memperoleh amnesti dan dibebaskan, sebelum akhirnya menghilang dari ruang publik selama bertahun-tahun.
Ceccaldi menyebut kliennya kerap berpindah-pindah tempat tinggal demi alasan keamanan, menandakan bahwa ancaman terhadap dirinya tidak pernah benar-benar hilang. Kematian Seif kini menambah daftar panjang tokoh politik Libya yang tewas dalam kekerasan bersenjata, sekaligus menjadi simbol bahwa konflik dan ketegangan pascarevolusi masih terus membayangi negara tersebut.
Kasus pembunuhan ini diperkirakan akan memperburuk ketegangan politik dan keamanan di Libya, serta berpotensi memicu dinamika baru antar kelompok yang selama ini saling berseberangan dalam perebutan pengaruh dan kekuasaan. []
Diyan Febriana Citra.

