Megawati: Kepemimpinan Perempuan Harus Merangkul, Bukan Menindas

Megawati: Kepemimpinan Perempuan Harus Merangkul, Bukan Menindas

Bagikan:

ABU DHABI – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki karakter moral dan sosial yang khas, terutama dalam membangun perdamaian, persatuan, dan kemanusiaan. Pesan tersebut ia sampaikan dalam forum internasional Human Fraternity Majlis yang berlangsung di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Selasa (03/02/2026) waktu setempat.

Dalam forum yang dihadiri para pemimpin dunia, tokoh perempuan global, serta perwakilan lembaga internasional, Megawati memaparkan pandangannya tentang kepemimpinan yang tidak berorientasi pada dominasi kekuasaan, melainkan pada nilai perawatan sosial, empati, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Ia menekankan bahwa kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk menjaga martabat manusia, bukan sebagai sarana menekan atau mengendalikan masyarakat.

“Sebagai seorang perempuan, saya membawa keyakinan bahwa kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan tentang upaya merangkul dan merawat, serta bukan menindas,” ujar Megawati.

Dalam paparannya, Megawati juga mengaitkan gagasan tersebut dengan pengalaman konkret saat memimpin Indonesia pada masa awal transisi demokrasi. Ia mengingatkan bahwa periode tersebut diwarnai ketegangan sosial dan konflik horizontal di sejumlah wilayah, seperti Poso di Sulawesi Tengah dan Ambon di Maluku, yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa.

Menurut Megawati, pemerintah saat itu menghadapi pilihan besar antara pendekatan kekerasan negara atau jalan rekonsiliasi. Ia menegaskan bahwa negara memilih pendekatan dialog, persatuan, dan rekonsiliasi sosial sebagai fondasi penyelesaian konflik.

“Dalam situasi waktu itu, sebagai kepala negara saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut, kata Megawati, dilakukan melalui dialog terbuka, musyawarah mufakat, serta upaya membangun kembali kepercayaan di antara kelompok masyarakat yang terlibat konflik. Bersama Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pemerintah mendorong proses perdamaian yang menempatkan kemanusiaan sebagai titik temu bersama. Ia menilai langkah itu menjadi contoh bahwa kepemimpinan yang mengedepankan empati mampu menghentikan kekerasan sekaligus memperkuat kohesi sosial.

Lebih jauh, Megawati menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak cukup hanya berlandaskan legitimasi formal dan kewenangan struktural. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kepekaan sosial dan kemampuan memahami penderitaan rakyat secara langsung.

Ia menyebut bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mendengar “denyut kehidupan rakyat”, memahami luka sosial, serta menjadikan pengalaman historis masyarakat sebagai dasar perumusan kebijakan publik.

Dalam konteks global, Megawati juga menyampaikan pandangan tentang tantangan kepemimpinan dunia saat ini. Ia menilai dunia tengah menghadapi fragmentasi akibat kepentingan sektarian, konflik identitas, dan rivalitas geopolitik. Karena itu, kepemimpinan global, menurutnya, harus dibangun di atas prinsip human fraternity atau persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas agama, etnis, kebangsaan, dan generasi.

“Tugas pemimpin adalah membangun kepercayaan dengan menempatkan keadilan sosial dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi kebijakan,” pungkasnya.

Dalam forum tersebut, Megawati didampingi oleh putranya yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan M Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, serta Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab Judha Nugraha. Ia tampil berdampingan dengan sejumlah tokoh internasional, di antaranya Presiden Timor Leste Ramos Horta, ibu negara Lebanon Nehmat Aoun, ibu negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, ibu negara Kolombia Veronica Alcocer Garcia, Kepala Administrasi Presiden Uzbekistan Saida Mirziyoyeva, serta Wakil Presiden Heydar Aliyev Foundation Leyla Aliyeva, dengan moderator Mina Al-Oraibi.

Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara mengenai peran kepemimpinan perempuan dalam membangun perdamaian global, keadilan sosial, dan masa depan kemanusiaan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional