Paramedis Tewas di Gaza, IFRC Kecam Keras Serangan

Paramedis Tewas di Gaza, IFRC Kecam Keras Serangan

Bagikan:

GAZA – Ketegangan di Jalur Gaza kembali menelan korban dari kalangan pekerja kemanusiaan. Seorang paramedis yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan dilaporkan tewas akibat serangan di wilayah Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, pada Rabu (04/02/2026) waktu setempat. Insiden tersebut memicu kecaman keras dari Federasi Palang Merah Internasional dan Perhimpunan Bulan Sabit Merah (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC), yang menyatakan kemarahan mendalam atas peristiwa tersebut.

Dalam pernyataan resminya, IFRC mengungkapkan bahwa korban bernama Hussein Hassan Hussein Al-Samiri, seorang paramedis yang bertugas untuk Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society/PRCS). Ia dikenal sebagai tenaga kemanusiaan yang berdedikasi dan aktif terlibat dalam misi penyelamatan warga sipil di wilayah konflik.

“Dia terbunuh saat menjalankan tugas kemanusiaan menyelamatkan nyawa di Khan Younis selama serangan melanda area Al-Mawasi,” sebut IFRC dalam pernyataannya.

Kematian Al-Samiri menambah panjang daftar pekerja kemanusiaan yang gugur di tengah konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. IFRC menilai insiden ini bukan sekadar kehilangan satu nyawa, tetapi juga menjadi simbol rapuhnya perlindungan terhadap tenaga medis dan relawan kemanusiaan di wilayah konflik bersenjata.

“IFRC menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarganya, teman-teman dan rekan-rekannya dan menyatakan solidaritas penuh dengan PRCS,” imbuh pernyataan tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah gencatan senjata yang secara resmi masih berlangsung sejak Oktober 2025 tahun lalu. Namun, meski kesepakatan gencatan senjata diberlakukan, kekerasan bersenjata tetap terjadi di berbagai wilayah Gaza. Israel dan Hamas saling menuding sebagai pihak yang melanggar kesepakatan tersebut, sementara warga sipil dan pekerja kemanusiaan tetap berada dalam posisi paling rentan.

Menurut IFRC, kematian Al-Samiri memperparah catatan kelam korban dari kalangan staf dan relawan Bulan Sabit Merah Palestina. Sedikitnya 30 orang tenaga kemanusiaan dilaporkan tewas sejak perang pecah pada Oktober 2023. Angka tersebut mencerminkan tingginya risiko yang dihadapi para relawan dan petugas medis yang bekerja di garis depan konflik.

IFRC menegaskan kembali pentingnya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, khususnya perlindungan terhadap tenaga medis dan pekerja kemanusiaan.

“Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah simbol perlindungan, kemanusiaan, netralitas, dan harapan. Namun seringkali, para relawan dan staf kami terbunuh saat melakukan pekerjaan menyelamatkan nyawa,” sebut IFRC dalam pernyataannya.

“Hilangnya nyawa Hussein menjadi pengingat tragis akan bahaya yang dihadapi oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka untuk membantu orang lain,” imbuh pernyataan tersebut.

IFRC yang berbasis di Jenewa, Swiss, merupakan jaringan kemanusiaan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17 juta relawan yang tersebar di lebih dari 191 negara. Organisasi ini menekankan bahwa perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kewajiban hukum internasional.

Sementara itu, pejabat kesehatan di Gaza melaporkan bahwa serangan udara dan tembakan tank Israel pada hari yang sama menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk tujuh anak-anak. Laporan Reuters menyebutkan bahwa salah satu korban tewas adalah seorang paramedis yang bergegas memberikan pertolongan di Khan Younis, lalu menjadi korban serangan susulan di lokasi yang sama.

Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan setelah salah satu perwira mereka terluka akibat “tembakan musuh” di Jalur Gaza. Klaim ini menambah kompleksitas konflik yang terus berulang, dengan saling tuding antara pihak-pihak yang bertikai.

Tragedi ini kembali menegaskan bahwa konflik bersenjata di Gaza tidak hanya merenggut nyawa warga sipil, tetapi juga mengorbankan mereka yang seharusnya dilindungi karena menjalankan misi kemanusiaan. Di tengah kekerasan yang terus berlangsung, kematian seorang paramedis menjadi simbol rapuhnya nilai-nilai kemanusiaan di wilayah konflik, sekaligus menjadi seruan moral bagi dunia internasional untuk memperkuat perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional