Postingan Rasis Trump Hina Obama Dihapus oleh Gedung Putih

Postingan Rasis Trump Hina Obama Dihapus oleh Gedung Putih

Bagikan:

WASHINGTON — Polemik besar kembali mengguncang Gedung Putih setelah sebuah unggahan bernuansa rasis di akun media sosial Truth Social Presiden Donald Trump dihapus secara resmi pada Jumat (06/02/2026) waktu setempat. Unggahan tersebut menampilkan visual yang memperlihatkan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, digambarkan sebagai primata, yang memicu gelombang kecaman luas dari berbagai kalangan lintas partai.

Penghapusan konten tersebut dilakukan setelah muncul tekanan keras, tidak hanya dari Partai Demokrat, tetapi juga dari internal Partai Republik. Insiden ini semakin menuai sorotan publik karena terjadi pada pekan pertama peringatan Black History Month, periode yang secara historis dimaknai sebagai penghormatan terhadap perjuangan dan kontribusi warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Pihak Gedung Putih memberikan klarifikasi bahwa unggahan tersebut terjadi akibat kesalahan staf. Mereka menyebut konten itu diunggah secara tidak sengaja dan bukan merupakan pernyataan resmi presiden. Namun, penjelasan tersebut justru memunculkan pertanyaan publik mengenai sistem kontrol, etika komunikasi, dan standar penyaringan konten di akun resmi kepresidenan.

Sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat merespons kritik dengan nada defensif. Ia menepis kemarahan publik dan menyebut unggahan tersebut sebagai ekspresi budaya internet semata.

“Ini berasal dari video meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai raja hutan dan Demokrat sebagai karakter dari film Lion King,” kata Leavitt melalui pesan teks.

Namun, penjelasan tersebut tidak meredam kemarahan publik. Pasalnya, klip berdurasi 62 detik itu secara spesifik menampilkan wajah keluarga Obama yang ditempelkan di atas tubuh primata, sebuah simbol yang secara historis memiliki muatan rasis yang kuat. Setelah kritik semakin meluas, Gedung Putih akhirnya menghapus unggahan tersebut dengan alasan kesalahan bawahan.

Kontroversi ini memicu respons keras dari berbagai tokoh nasional. Senator Republik Tim Scott, yang merupakan satu-satunya senator kulit hitam dari Partai Republik, secara terbuka mengecam unggahan tersebut dan menyebutnya sebagai salah satu tindakan paling rasis yang pernah muncul dari lingkungan kepresidenan. Senator Roger Wicker juga menyerukan agar Presiden Trump menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Reaksi keras juga datang dari kalangan tokoh hak sipil. Pendeta Bernice King, putri dari tokoh legendaris gerakan hak sipil Martin Luther King Jr, menyampaikan pernyataan tegas yang menggambarkan kemarahan komunitas kulit hitam Amerika.

“Kami bukan kera,” tegasnya, menekankan martabat dan kemanusiaan warga Amerika kulit hitam.

Sejumlah sejarawan dan akademisi mengingatkan bahwa penggunaan metafora hewan untuk merendahkan kelompok kulit hitam merupakan bentuk rasisme klasik yang telah berlangsung sejak abad ke-18. Praktik ini dahulu digunakan sebagai alat propaganda untuk membenarkan perbudakan, kolonialisme, dan dehumanisasi terhadap kelompok ras tertentu.

Ketua Kaukus Kulit Hitam Kongres, Yvette Clarke, secara terbuka menyatakan keraguannya terhadap klaim “kesalahan staf” yang disampaikan Gedung Putih. Ia menilai insiden ini mencerminkan kondisi internal pemerintahan yang bermasalah secara etika dan budaya komunikasi. Menurut Clarke, kejadian tersebut merupakan refleksi dari “iklim beracun” yang berkembang di lingkungan pemerintahan saat ini.

Insiden ini juga memperpanjang daftar kontroversi terkait pernyataan dan sikap Trump terhadap isu ras. Sebelumnya, ia pernah menyebarkan teori konspirasi tentang kewarganegaraan Barack Obama dan menggunakan istilah ofensif terhadap negara-negara yang mayoritas penduduknya berkulit hitam, yang berulang kali menuai kecaman internasional.

Hingga kini, pihak Barack Obama melalui juru bicaranya menyatakan tidak akan memberikan tanggapan resmi atas unggahan tersebut. Sikap diam ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap etika kenegaraan sekaligus upaya menghindari eskalasi konflik politik yang lebih luas. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional