LONDON – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memilih bertahan di tengah tekanan politik yang kian menguat akibat skandal yang menyeret nama Jeffrey Epstein dan kontroversi penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat. Situasi ini berkembang menjadi krisis politik serius yang menguji stabilitas kepemimpinannya sejak menjabat, sekaligus memperlihatkan dinamika kekuasaan internal Partai Buruh yang semakin kompleks.
Alih-alih mengendur, tekanan justru datang dari berbagai arah. Di parlemen, di internal partai, hingga dari kekuatan politik oposisi, posisi Starmer terus dipersoalkan. Namun, di hadapan anggota parlemen Partai Buruh pada Senin (09/02/2026), Starmer menunjukkan sikap tegas untuk tidak mundur dari jabatannya.
“Setelah berjuang begitu keras demi kesempatan mengubah negara kita, saya tidak siap untuk meninggalkan mandat dan tanggung jawab saya,” katanya, disambut tepuk tangan dalam pertemuan penting partai. Ia juga menambahkan dengan penuh keyakinan bahwa dirinya telah “memenangkan setiap pertarungan yang pernah dihadapi.”
Pernyataan tersebut menandai sikap politik Starmer yang memilih konfrontasi terbuka terhadap tekanan, bukan kompromi. Namun, resistensi tidak hanya datang dari luar partai. Dari internal Partai Buruh sendiri, suara kritis justru menguat. Pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, secara terbuka menyerukan pengunduran diri Starmer terkait keputusan menunjuk Peter Mandelson sebagai duta besar, meskipun telah diketahui adanya hubungan Mandelson dengan Jeffrey Epstein.
“Pengalihan isu ini harus diakhiri, dan kepemimpinan di Downing Street harus berubah,” kata Sarwar dalam konferensi pers di Glasgow.
Di sisi lain, dukungan politik tetap mengalir dari lingkar kekuasaan inti. Sejumlah menteri kabinet menyatakan sikap berada di belakang Starmer, termasuk David Lammy, Yvette Cooper, dan Rachel Reeves. Dua figur potensial penerus, Angela Rayner dan Shabana Mahmood, juga menyatakan “dukungan penuh” kepada perdana menteri. Dukungan ini memperlihatkan bahwa meskipun tekanan besar, struktur kekuasaan formal Partai Buruh masih menopang kepemimpinan Starmer.
Namun, stabilitas internal tetap terguncang oleh mundurnya orang-orang kepercayaan. Kepala komunikasi Tim Allan mengundurkan diri, disusul kepala staf Morgan McSweeney, sosok kunci yang selama ini menjadi arsitek strategi politik Starmer dan membantu menggeser Partai Buruh ke jalur moderat pasca era Jeremy Corbyn.
Di luar parlemen, tekanan politik semakin menguat. Pemimpin oposisi Konservatif Kemi Badenoch menyebut posisi Starmer “tidak bisa dipertahankan”. Pemimpin Reform UK, Nigel Farage, bahkan menyatakan masa jabatan Starmer “sedang menuju akhir”. Dalam jajak pendapat terbaru, Partai Buruh tertinggal signifikan dari Reform UK yang mengusung agenda anti-imigrasi.
Reaksi publik pun terbelah. “Dia mengecewakan kami dengan penilaiannya dalam menunjuk Peter Mandelson,” kata James Lyon. Sementara Anil Passi, pemilik bisnis IT, menyatakan pandangan berbeda: “Dia mendukung seseorang dengan itikad baik, dan orang itu mengecewakannya. Agak tidak adil mendorongnya ke jurang karena alasan itu.”
Kontroversi Epstein kembali mencuat setelah dokumen pemerintah AS yang dirilis 30 Januari menunjukkan dugaan kebocoran informasi rahasia oleh Mandelson kepada Epstein. Polisi Inggris kini menyelidiki Mandelson atas dugaan pelanggaran jabatan publik dan telah menggerebek dua propertinya. Ia belum ditangkap.
Dalam situasi ini, Starmer menyampaikan permintaan maaf kepada para korban Epstein dan menegaskan bahwa Mandelson telah berbohong soal hubungan dengan Epstein saat proses uji kelayakan jabatan. Di tengah badai politik, Partai Buruh juga menghadapi pemilu sela dan pemilu lokal dalam waktu dekat, menjadikan krisis ini bukan hanya persoalan etika politik, tetapi juga ancaman elektoral nyata bagi kelangsungan kepemimpinan Starmer. []
Diyan Febriana Citra.

