WASHINGTON — Isu transparansi kembali mengemuka di Amerika Serikat setelah sejumlah dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein mulai dibuka sebagian oleh Departemen Kehakiman AS. Dalam perkembangan terbaru, enam nama pria berpengaruh yang sebelumnya disamarkan akhirnya terungkap ke publik. Pengungkapan tersebut dilakukan oleh anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, bersama anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie, usai meninjau dokumen tanpa sensor di Departemen Kehakiman.
Langkah ini menyoroti kuatnya desakan politik agar pemerintah membuka akses informasi secara lebih luas terkait jaringan Epstein. Meski demikian, Khanna menegaskan bahwa kemunculan nama-nama tersebut dalam berkas tidak serta-merta membuktikan adanya keterlibatan pidana. Hingga saat ini, tidak satu pun dari enam pria tersebut didakwa dalam perkara yang berkaitan langsung dengan Epstein.
Dalam pidato resminya di sidang parlemen pada Selasa (10/02/2026), Khanna menyampaikan kritik tajam terhadap praktik penyensoran dokumen negara. Ia menyatakan, “Jika kami menemukan enam pria yang mereka sembunyikan hanya dalam dua jam, bayangkan berapa banyak pria yang mereka tutupi dalam tiga juta berkas itu.”
Ia juga menambahkan bahwa ketika bagian yang disensor ditunjukkan kepada pejabat Departemen Kehakiman, “mereka mengakui kesalahan mereka” dan kemudian membuka identitas pihak-pihak tersebut.
Kasus Epstein sendiri merupakan salah satu skandal kriminal terbesar dalam sejarah modern AS. Pada 2008, Epstein mengaku bersalah atas tuduhan meminta layanan prostitusi dari anak di bawah umur dan menjalani hukuman 13 bulan penjara. Pada 2019, ia meninggal dunia dalam tahanan di New York saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks, dalam peristiwa yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri.
Enam nama yang sebelumnya disensor itu berasal dari berbagai latar belakang. Salah satunya adalah Leslie “Les” Wexner, miliarder ritel yang dikenal membangun kerajaan bisnis global, termasuk Victoria’s Secret, Abercrombie & Fitch, dan Bath & Body Works. Hubungan finansial jangka panjang Wexner dengan Epstein telah lama diketahui publik. Bahkan, investigasi media menyebut bahwa dukungan Wexner menjadi faktor penting yang mengangkat posisi ekonomi Epstein secara drastis.
Nama lain yang muncul adalah Sultan Ahmed bin Sulayem, pimpinan DP World, perusahaan pelabuhan dan logistik multinasional yang beroperasi di lebih dari 80 negara. Dalam dokumen yang dibuka, terdapat korespondensi pribadi yang menunjukkan komunikasi antara dirinya dan Epstein, meski hingga kini tidak ada tuduhan pidana yang diarahkan kepadanya.
Selain itu, nama Nicola Caputo juga tercantum dalam berkas. Ia dikenal sebagai politisi Italia yang pernah menjadi anggota Parlemen Eropa. Namun, hingga kini belum ada bukti terverifikasi bahwa individu yang disebut dalam dokumen tersebut benar-benar merujuk pada tokoh publik yang sama. Tiga nama lain, yakni Salvatore Nuara, Zurab Mikeladze, dan Leonic Leonov, juga belum dapat dipastikan identitasnya secara jelas.
Khanna dan Massie menilai pembukaan enam nama ini baru merupakan bagian kecil dari keseluruhan arsip Epstein yang masih tertutup. Mereka menyerukan agar Departemen Kehakiman AS membuka dokumen secara lebih menyeluruh demi menjamin akuntabilitas publik, mencegah spekulasi, serta memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum negara.
Kasus ini tidak hanya menyoroti kejahatan Epstein semata, tetapi juga memperlihatkan kompleksitas relasi kekuasaan, jaringan elite global, serta tantangan transparansi dalam sistem hukum modern Amerika Serikat. []
Diyan Febriana Citra.

