Persidangan Koroner Ungkap Tragedi Kematian Lucy Harrison

Persidangan Koroner Ungkap Tragedi Kematian Lucy Harrison

Bagikan:

WASHINGTON — Fakta-fakta baru yang terungkap dalam persidangan koroner di Inggris membuka kembali luka mendalam atas kematian tragis Lucy Harrison (23), warga Warrington, Cheshire, yang tewas tertembak di Amerika Serikat. Peristiwa itu terjadi saat Lucy berkunjung ke rumah ayahnya, Kris Harrison, di Prosper, dekat Dallas, Texas, pada awal Januari 2025, tepat sehari sebelum ia dijadwalkan kembali ke Inggris.

Kasus ini menjadi sorotan publik internasional karena melibatkan hubungan keluarga dan isu sensitif kepemilikan senjata api. Persidangan mengungkap bahwa tragedi tersebut bermula dari suasana liburan keluarga yang awalnya berjalan normal, namun berubah drastis setelah muncul perdebatan sengit di dalam rumah.

Ketegangan dipicu oleh perbedaan pandangan politik antara Lucy dan ayahnya, terutama terkait dinamika politik Amerika Serikat. Perselisihan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik emosional yang lebih luas, termasuk pembahasan tentang isu kepemilikan senjata api yang selama ini menjadi sumber ketidaknyamanan bagi Lucy.

“Kekasih Lucy, Sam Littler, yang turut serta dalam perjalanan tersebut, memberikan kesaksian bahwa Lucy dan ayahnya terlibat argumen hebat mengenai Donald Trump, yang saat itu tengah bersiap untuk pelantikan masa jabatan keduanya,” tulis BBC, Rabu (11/02/2026).

Situasi semakin memanas ketika diskusi beralih ke isu senjata api. Lucy diketahui kerap menunjukkan penolakan terhadap pandangan ayahnya mengenai kepemilikan senjata. Dalam kondisi emosi yang memuncak, Lucy sempat mengajukan pertanyaan bernada emosional terkait isu penyerangan seksual, yang membuatnya terpukul secara psikologis hingga berlari ke lantai atas sambil menangis.

Tak lama setelah itu, rangkaian peristiwa yang berujung maut pun terjadi. Kris Harrison membawa Lucy ke dalam kamar tidur dengan dalih ingin memperlihatkan pistol semi-otomatis Glock 9mm yang disimpan di laci samping tempat tidur. Dalam waktu singkat, suara tembakan keras terdengar dari dalam ruangan tersebut.

Sam Littler yang berada di dalam rumah segera menuju sumber suara dan menemukan Lucy sudah tergeletak bersimbah darah di depan pintu kamar mandi. Sementara itu, Kris berada dalam kondisi panik dan berteriak histeris setelah insiden tersebut terjadi.

Dalam proses persidangan, Kris Harrison yang tidak hadir secara langsung di Inggris, menyampaikan pernyataan tertulis. Ia mengakui bahwa pada hari kejadian dirinya kembali mengonsumsi alkohol. Ia menyebut telah meminum sekitar 500 ml minuman beralkohol karena merasa emosional akibat perpisahan dengan putrinya yang akan kembali ke Inggris.

“Polisi di lokasi kejadian pun mengonfirmasi adanya bau alkohol dari napas Kris saat mereka tiba,” sebut BBC.

Kris mengklaim bahwa tembakan yang merenggut nyawa Lucy terjadi secara tidak sengaja. Ia menyatakan senjata tersebut meledak saat ia mengangkatnya untuk diperlihatkan kepada Lucy. Meski mengakui bahwa peristiwa itu telah menghancurkan hidupnya, ia mengaku tidak mengingat secara pasti apakah jarinya berada di pelatuk saat kejadian berlangsung.

Penyelidikan awal oleh kepolisian Texas sempat mengarah pada dugaan pembunuhan tidak disengaja. Namun, dewan juri di Collin County memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan pidana terhadap Kris Harrison. Keputusan tersebut memicu kritik dan perdebatan luas terkait regulasi kepemilikan senjata api di Texas, serta persoalan keadilan bagi korban dalam sistem hukum yang dinilai longgar terhadap kepemilikan senjata.

Di Inggris, keluarga Lucy menempuh jalur persidangan koroner untuk memperoleh kejelasan hukum dan transparansi atas kematian putri mereka. Sang ibu, Jane Coates, menggambarkan Lucy sebagai pribadi yang penuh semangat, peduli terhadap isu sosial, dan memiliki empati tinggi terhadap sesama.

Persidangan ini dijadwalkan berlanjut pada Rabu mendatang, dengan agenda mendengarkan kesimpulan akhir dari koroner mengenai penyebab pasti kematian Lucy Harrison. Bagi keluarga, proses ini bukan sekadar formalitas hukum, tetapi upaya mencari kebenaran, keadilan, dan kejelasan atas tragedi yang merenggut nyawa seorang anak, putri, dan perempuan muda yang tengah menata masa depannya. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional Kasus