Iran Tegaskan Diplomasi Masih Terbuka dengan Amerika Serikat

Iran Tegaskan Diplomasi Masih Terbuka dengan Amerika Serikat

Bagikan:

TEHERAN – Pemerintah Iran kembali menegaskan pintu dialog dengan Amerika Serikat belum tertutup, meskipun hubungan kedua negara masih diwarnai ketegangan dan ancaman militer. Sikap tersebut disampaikan langsung oleh Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa Teheran lebih memilih jalur diplomasi sebagai cara menyelesaikan persoalan, khususnya terkait program nuklir Iran.

Dalam wawancara dengan jaringan televisi Amerika Serikat MS NOW pada Jumat (20/02/2026), Araghchi menekankan bahwa pendekatan kekerasan tidak akan membawa hasil. Ia menilai, konflik yang terus dipelihara justru berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.

“Solusi diplomatik ada dalam jangkauan kita; kita dapat dengan mudah mencapainya,” kata Araghchi dilansir Al Jazeera.

Menurut Araghchi, Iran sejak awal berpandangan bahwa isu nuklir tidak memiliki solusi militer. Ia menyebut, tekanan melalui kekuatan senjata maupun ancaman serangan justru hanya akan memperpanjang kebuntuan dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas. Dalam konteks ini, Iran memandang diplomasi sebagai satu-satunya jalan realistis untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan.

Araghchi juga menyampaikan kritik tajam terhadap meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Penempatan dua kapal induk serta puluhan pesawat tempur AS dinilainya sebagai langkah berlebihan yang tidak membantu menciptakan suasana kondusif bagi perundingan.

“Saya telah berkecimpung dalam urusan ini selama 20 tahun dan bernegosiasi dengan berbagai pihak. Saya tahu bahwa kesepakatan bisa dicapai, tetapi harus adil dan didasarkan pada solusi yang saling menguntungkan,” ujar diplomat tertinggi Iran tersebut.

Ia memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer hanya akan memperkeruh situasi dan menimbulkan dampak luas, tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi negara-negara di sekitarnya serta komunitas internasional secara keseluruhan.

“Pilihan militer hanya akan memperumit keadaan dan membawa konsekuensi yang menghancurkan bukan hanya bagi kami, mungkin bagi seluruh kawasan dan komunitas internasional.”

Pernyataan Araghchi tersebut muncul di tengah meningkatnya spekulasi mengenai langkah Washington terhadap Iran. Beberapa jam setelah wawancara itu disiarkan, Donald Trump ditanya wartawan mengenai kemungkinan serangan terbatas terhadap Iran sebagai bagian dari strategi negosiasi.

“Saya kira bisa saya katakan bahwa saya sedang mempertimbangkan hal itu,” ujar Trump.

Menanggapi sikap tersebut, Araghchi kembali menegaskan bahwa pendekatan tekanan dan ancaman tidak akan mengubah posisi Teheran. Ia menyebut rakyat Iran sebagai bangsa yang menjunjung tinggi harga diri dan hanya akan merespons pendekatan yang dilandasi rasa saling menghormati.

“Pemerintahan AS sebelumnya, bahkan pemerintahan AS saat ini, telah mencoba hampir segala cara terhadap kami perang, sanksi, mekanisme snapback, dan lainnya tetapi tidak satu pun yang berhasil,” katanya.

Dari sudut pandang Iran, pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional justru memperkuat keyakinan bahwa dialog yang setara dan adil adalah satu-satunya jalan menuju kesepakatan. Araghchi menegaskan, Iran tidak menutup diri dari perundingan, namun menolak diplomasi yang dibangun di atas ancaman.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat masih bergantung pada pilihan strategi kedua pihak: apakah mengedepankan kekuatan militer atau membuka ruang kompromi melalui diplomasi yang saling menghormati. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional