WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pemerintahannya sedang mengkaji opsi penggunaan kekuatan militer terbatas sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Teheran. Pernyataan tersebut mempertegas pendekatan keras Washington dalam mendorong Iran agar bersedia kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan baru terkait isu nuklir.
Berbicara kepada awak media di Gedung Putih pada Jumat (20/02/2026), Trump tidak menutup kemungkinan langkah militer menjadi salah satu instrumen diplomasi yang sedang dipertimbangkan.
“Saya rasa bisa dibilang bahwa saya sedang mempertimbangkannya,” ujar Trump.
Pernyataan itu muncul di tengah laporan media Amerika yang menyebutkan adanya pembahasan serius di internal pemerintahan AS terkait skenario serangan terbatas. The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Gedung Putih tengah menelaah opsi serangan tahap awal terhadap sejumlah fasilitas strategis milik pemerintah atau militer Iran. Opsi tersebut disebut bersifat terbatas dan dirancang sebagai sinyal tekanan, bukan operasi militer berskala penuh.
Menurut laporan tersebut, langkah militer akan ditempatkan sebagai alternatif apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil sesuai dengan harapan Washington. Pemerintahan Trump menilai bahwa tekanan maksimum baik melalui sanksi ekonomi maupun ancaman militer masih diperlukan untuk memaksa Iran menyesuaikan kebijakannya terkait pengembangan nuklir.
Dalam laporan yang sama, disebutkan pula bahwa jika Iran tetap menolak memenuhi tuntutan nuklir Amerika Serikat, respons Washington bisa meningkat menjadi kampanye tekanan yang lebih luas. Langkah lanjutan tersebut tidak hanya menyasar fasilitas strategis, tetapi juga berpotensi melemahkan struktur pemerintahan Iran. Bahkan, skenario ekstrem berupa upaya menggoyang stabilitas kekuasaan di Teheran disebut-sebut masuk dalam kalkulasi strategis.
Sebelumnya, Trump juga secara terbuka menyampaikan batas waktu kepada Iran untuk mengambil keputusan. Ia menyebut Teheran hanya memiliki waktu sekitar 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Batas waktu tersebut, menurut Trump, sudah lebih dari cukup bagi Iran untuk merespons tuntutan Washington secara serius.
Ia menilai bahwa penundaan hanya akan memperburuk posisi Iran di mata komunitas internasional. Pemerintahan AS, kata Trump, tidak ingin konflik terbuka, tetapi juga tidak akan ragu mengambil langkah tegas apabila kepentingan nasional Amerika Serikat dan stabilitas global dianggap terancam.
Di sisi lain, wacana penggunaan kekuatan militer menuai perhatian luas dari pengamat internasional. Banyak pihak menilai bahwa ancaman serangan terbatas berpotensi meningkatkan eskalasi di kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah sarat konflik. Risiko salah perhitungan dinilai dapat memicu ketegangan regional yang lebih luas, termasuk melibatkan negara-negara sekutu dan aktor non-negara.
Meski demikian, Gedung Putih tetap menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ancaman militer, menurut pejabat AS, dimaksudkan sebagai alat tawar dalam negosiasi, bukan tujuan akhir. Namun, dengan tenggat waktu yang terus berjalan, perhatian dunia kini tertuju pada langkah Iran dalam menanggapi tekanan tersebut. []
Diyan Febriana Citra.

