AS Belum Tetapkan Tenggat Pembicaraan Nuklir dengan Iran

AS Belum Tetapkan Tenggat Pembicaraan Nuklir dengan Iran

Bagikan:

WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat menegaskan masih membuka ruang diplomasi dalam pembicaraan nuklir dengan Iran, meski pada saat yang sama tidak menutup kemungkinan opsi militer apabila jalur perundingan tidak menghasilkan kesepakatan. Sikap tersebut disampaikan Gedung Putih pada Rabu (18/02/2026), seiring meningkatnya perhatian internasional terhadap arah hubungan Washington dan Teheran.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat belum menetapkan tenggat waktu khusus bagi pembicaraan nuklir antara kedua negara. Menurutnya, pihak Iran diperkirakan masih akan menyampaikan sikap resmi serta rincian posisi negosiasi mereka dalam beberapa pekan ke depan.

“Diplomasi selalu menjadi opsi pertama beliau (Presiden Donald Trump),” kata Leavitt dalam taklimat pers harian di Gedung Putih.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump masih mengedepankan jalur perundingan sebagai pendekatan utama dalam menangani isu nuklir Iran. Namun, Leavitt juga tidak menampik adanya skenario lain yang tengah dipertimbangkan oleh Washington.

“Namun demikian, dia mengatakan ‘ada banyak alasan dan argumen yang dapat mendasari untuk melakukan serangan terhadap Iran.’”

Meski pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas, Leavitt menolak menjelaskan lebih jauh terkait batas waktu diplomasi. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengumumkan atau menetapkan tenggat waktu atas nama presiden Amerika Serikat.

“Leavitt mengatakan bahwa dia tidak akan ‘menetapkan tenggat waktu atas nama presiden AS.’”

Sikap ini sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang sehari sebelumnya mengakui adanya sejumlah sinyal positif dari proses perundingan. Namun demikian, Vance menekankan bahwa tuntutan utama Washington masih belum sepenuhnya dipenuhi oleh pihak Iran.

Wakil Presiden AS JD Vance pada Selasa (17/02/2026) mengatakan perundingan tersebut menunjukkan beberapa tanda positif, tetapi “garis merah” utama AS masih belum terpenuhi.

Pernyataan dari pejabat tinggi Gedung Putih tersebut menandakan bahwa meski dialog masih berlangsung, Amerika Serikat tetap mempertahankan sikap waspada terhadap perkembangan program nuklir Iran. Pemerintah AS menilai bahwa komitmen Teheran terhadap pembatasan aktivitas nuklir harus disertai dengan langkah-langkah konkret dan dapat diverifikasi.

Di tengah dinamika diplomatik tersebut, laporan media Amerika turut memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi. Seorang penasihat Presiden Trump disebut menyampaikan bahwa Gedung Putih semakin mendekati opsi militer jika pembicaraan tidak mencapai hasil yang diharapkan. Media Axios melaporkan bahwa peluang aksi militer bahkan diperkirakan mencapai “90 persen” dalam beberapa pekan ke depan apabila negosiasi mengalami kebuntuan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa jika operasi militer dilakukan, Amerika Serikat berpotensi melancarkan kampanye berskala besar yang berlangsung selama beberapa pekan. Operasi tersebut diperkirakan dapat dilakukan bersama Israel, dengan sasaran utama fasilitas nuklir dan program rudal Iran.

Selain menargetkan infrastruktur strategis, operasi tersebut juga disebut dapat menimbulkan tekanan serius terhadap kepemimpinan Iran. Meski demikian, hingga kini Gedung Putih belum memberikan konfirmasi resmi terkait laporan tersebut.

Pengamat hubungan internasional menilai, ketidakjelasan tenggat waktu justru menjadi strategi diplomatik Washington untuk memberikan ruang manuver, sekaligus tekanan psikologis kepada Teheran. Dengan menjaga keseimbangan antara diplomasi dan ancaman kekuatan militer, Amerika Serikat berupaya mendorong Iran agar bersikap lebih kompromistis dalam perundingan.

Sementara itu, komunitas internasional terus mencermati perkembangan ini dengan penuh kehati-hatian, mengingat potensi konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah dapat membawa dampak luas terhadap stabilitas global. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional