Bangunan Tua Ambruk di Tripoli, Sembilan Orang Tewas

Bangunan Tua Ambruk di Tripoli, Sembilan Orang Tewas

Bagikan:

TRIPOLI – Tragedi kemanusiaan kembali menimpa Kota Tripoli, Lebanon utara, setelah sebuah bangunan tua ambruk pada Minggu (08/02/2026). Peristiwa tersebut menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai sejumlah warga lainnya, sekaligus memperlihatkan persoalan lama tentang rapuhnya infrastruktur permukiman di kawasan miskin kota tersebut.

Bangunan yang runtuh berada di lingkungan Bab al-Tabbaneh, salah satu wilayah padat penduduk yang dikenal sebagai kawasan dengan tingkat kemiskinan tinggi. Kantor Berita Nasional (NNA) yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa bangunan tersebut merupakan konstruksi lama yang telah lama dihuni warga dalam kondisi tidak layak. Hingga malam hari, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih tertimbun di bawah puing-puing reruntuhan.

Upaya evakuasi dilakukan secara intensif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas pertahanan sipil, aparat keamanan, hingga relawan. Personel keamanan juga segera mengevakuasi bangunan-bangunan di sekitar lokasi kejadian karena dikhawatirkan berpotensi mengalami keruntuhan susulan. Langkah ini diambil untuk mencegah jatuhnya korban tambahan di tengah kondisi struktur bangunan yang dinilai tidak stabil.

Seorang koresponden AFP yang berada di lokasi melaporkan bahwa tim penyelamat bekerja tanpa henti hingga larut malam. Aktivitas evakuasi berlangsung di tengah gelap dan debu reruntuhan, sementara sejumlah ambulans terus bersiaga di sekitar lokasi untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat.

Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon, Imad Khreish, mengonfirmasi jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut. Ia menyatakan bahwa sembilan orang dinyatakan meninggal dunia, sementara enam korban lainnya berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Berdasarkan data awal, bangunan tersebut terdiri dari dua blok, masing-masing berisi enam unit apartemen. Diperkirakan sekitar 22 orang berada di dalam gedung ketika peristiwa runtuh terjadi.

Peristiwa ini kembali membuka luka lama tentang krisis infrastruktur di Tripoli. Kota ini dikenal memiliki banyak bangunan tua yang dihuni masyarakat berpenghasilan rendah tanpa standar keamanan konstruksi yang memadai. Minimnya perawatan, lemahnya pengawasan bangunan, serta keterbatasan anggaran pemerintah daerah menjadi faktor yang memperparah kondisi permukiman warga.

Wali Kota Tripoli, Abdel Hamid Karimeh, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai bahwa insiden ini bukan sekadar kecelakaan bangunan, melainkan gambaran krisis struktural yang telah berlangsung lama. “Ribuan warga kami di Tripoli terancam karena kelalaian selama bertahun-tahun,” katanya.

“Situasi ini di luar kemampuan pemerintah Kota Tripoli,” sambungnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pemerintah kota dalam menangani persoalan permukiman tidak layak huni. Banyak bangunan tua tetap dihuni karena keterbatasan pilihan tempat tinggal, meskipun struktur bangunan tidak lagi memenuhi standar keselamatan. Dalam kondisi ekonomi Lebanon yang masih terpuruk, persoalan ini semakin sulit ditangani secara cepat dan menyeluruh.

Tragedi runtuhnya bangunan di Bab al-Tabbaneh kini menjadi pengingat keras tentang pentingnya pembenahan sistematis terhadap infrastruktur kota. Selain upaya evakuasi dan penanganan korban, masyarakat dan pemerintah dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan-bangunan berisiko tinggi di Tripoli dan wilayah lain di Lebanon.

Bagi warga sekitar, insiden ini bukan hanya kehilangan nyawa, tetapi juga rasa aman. Reruntuhan bangunan tua tersebut kini menjadi simbol rapuhnya perlindungan terhadap masyarakat miskin kota yang hidup di lingkungan dengan risiko keselamatan tinggi. Tragedi ini sekaligus memperkuat desakan agar pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret dalam menjamin keselamatan hunian warga, sebelum bencana serupa kembali terulang. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional