ISLAMABAD — Tragedi kemanusiaan kembali mengguncang Pakistan setelah serangan bom bunuh diri menghantam sebuah masjid Syiah di ibu kota Islamabad saat pelaksanaan salat Jumat, Jumat (06/02/2026). Ledakan dahsyat tersebut menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya, menjadikannya sebagai salah satu serangan paling mematikan di kota itu dalam hampir dua dekade terakhir.
Serangan terjadi di Masjid Syiah Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra yang berada di kawasan Tarlai, wilayah pinggiran Islamabad. Saat kejadian, ribuan jemaah tengah melaksanakan ibadah, menciptakan situasi kepanikan massal yang berujung pada banyaknya korban jiwa dan luka-luka. Aparat setempat menyebutkan bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah, mengingat sejumlah korban berada dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif.
Sumber keamanan yang dikutip AFP mengungkapkan bahwa pelaku sempat dihentikan di pintu masuk masjid sebelum melakukan aksinya.
“Penyerang dihentikan di gerbang dan meledakkan dirinya sendiri,” ujar sumber tersebut dengan syarat anonim.
Kelompok Negara Islam (Islamic State/IS) kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Berdasarkan pemantauan SITE Intelligence Group, IS menyatakan bahwa salah satu militannya menargetkan jemaah dengan rompi berisi bahan peledak dan “menyebabkan banyak kematian dan luka-luka”.
Kesaksian para jemaah menggambarkan betapa brutalnya serangan tersebut. Muhammad Kazim (52) menyebut ledakan yang terjadi sangat kuat dan mengejutkan. “Ledakannya sangat kuat,” katanya kepada AFP.
Ia menjelaskan situasi saat kejadian berlangsung, “Saat rukuk pertama dalam Namaz, kami mendengar suara tembakan. Dan ketika kami masih dalam posisi rukuk, tiba-tiba terjadi ledakan.”
Saksi lain, Imran Mahmood, mengungkap adanya perlawanan dari relawan keamanan masjid. “Pelaku bom bunuh diri mencoba maju, tetapi salah satu relawan kami yang kemudian terluka menembaknya dari belakang dan mengenai pahanya,” kata Mahmood. “Setelah itu dia meledakkan bahan peledaknya.”
Di rumah sakit, suasana penuh duka dan kepanikan terlihat jelas. Korban berdatangan ke Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS) menggunakan tandu, kendaraan pribadi, hingga bagasi mobil. Banyak korban, termasuk anak-anak, datang dengan kondisi bersimbah darah, sementara keluarga korban menunggu dengan cemas di lorong-lorong rumah sakit.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengecam keras aksi teror tersebut dan menyatakan bahwa para pelaku serta pihak yang terlibat akan diburu hingga tuntas. Ia menegaskan negara tidak akan berkompromi terhadap terorisme dalam bentuk apa pun. Serangan ini tercatat sebagai yang paling mematikan di Islamabad sejak pengeboman Hotel Marriott pada 2008 yang menewaskan 60 orang.
Kecaman internasional juga berdatangan. Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar menyebut serangan ini sebagai “kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam.”
“Pakistan berdiri bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya,” katanya dalam unggahan di platform X.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut mengutuk serangan tersebut. Melalui juru bicaranya, ia menegaskan bahwa “serangan terhadap warga sipil dan tempat ibadah tidak dapat diterima.”
Peristiwa ini mempertegas rapuhnya situasi keamanan Pakistan, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi peningkatan ancaman ekstremisme, pemberontakan bersenjata, dan konflik lintas wilayah. Kelompok-kelompok militan memanfaatkan ketidakstabilan regional, termasuk wilayah perbatasan Afghanistan, sebagai basis pergerakan. Sementara itu, komunitas Syiah yang merupakan minoritas di Pakistan kembali menjadi kelompok paling rentan terhadap kekerasan terorganisir.
Tragedi ini tidak hanya menjadi catatan kelam dalam sejarah keamanan Islamabad, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme masih menjadi tantangan serius bagi stabilitas sosial, keamanan nasional, dan kohesi masyarakat Pakistan. []
Diyan Febriana Citra.

