China Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4–4,5 Persen pada 2026

China Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4–4,5 Persen pada 2026

Bagikan:

BEIJING – Pemerintah China menetapkan arah kebijakan ekonomi nasional untuk tahun 2026 dengan target pertumbuhan yang sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kebijakan ini diumumkan dalam pembukaan Sidang Kongres Rakyat Nasional China atau National People’s Congress (NPC) yang digelar di Beijing pada Kamis (05/03/2026).

Perdana Menteri China Li Qiang menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4 hingga 4,5 persen pada 2026. Target tersebut lebih rendah dibandingkan sasaran pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang dipatok sebesar 5 persen.

“Tujuan utama yang diharapkan untuk pembangunan tahun ini adalah pertumbuhan ekonomi 4,5-5 persen dengan upaya untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam pekerjaan nyata,” kata Perdana Menteri (PM) China Li Qiang dalam pembukaan Sidang Kongres Rakyat Nasional China (NPC) di Balai Agung Rakyat, Beijing, Kamis (05/03/2026).

Sidang NPC merupakan bagian dari agenda politik tahunan yang dikenal sebagai “Dua Sesi”. Forum tersebut menggabungkan dua pertemuan penting, yakni sidang NPC dan sidang Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC). Kegiatan ini berlangsung di Beijing pada 4 hingga 12 Maret 2026 dan menjadi momentum penting bagi pemerintah China dalam memaparkan arah kebijakan ekonomi, politik, serta pembangunan nasional.

Dalam pidatonya, Li Qiang juga memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menjadi fokus pemerintah pada tahun mendatang. Salah satunya terkait tingkat pengangguran di wilayah perkotaan yang diperkirakan berada di kisaran 5,5 persen.

“Kemudian, tingkat pengangguran perkotaan sekitar 5,5 persen dengan penambahan lapangan kerja baru di perkotaan adalah sebanyak lebih dari 12 juta orang,” tambah Li Qiang.

Selain target pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, pemerintah China juga menetapkan kebijakan fiskal yang relatif stabil. Pada 2026, defisit anggaran diperkirakan berada di angka sekitar 4 persen dari produk domestik bruto (PDB), sama seperti target yang ditetapkan pada tahun sebelumnya.

Secara nominal, skala defisit tersebut diperkirakan mencapai 5,89 triliun yuan atau meningkat sekitar 230 miliar yuan dibandingkan tahun 2025. Pemerintah juga merencanakan peningkatan penerbitan obligasi khusus untuk mendukung berbagai proyek pembangunan strategis.

Utang publik khusus China diproyeksikan mencapai 30 triliun yuan untuk pertama kalinya. Angka ini meningkat sekitar 1,27 triliun yuan dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pemerintah juga berencana menerbitkan obligasi nasional jangka panjang senilai 1,3 triliun yuan guna mendukung pembangunan infrastruktur dan berbagai program prioritas negara.

Di sektor moneter, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan akan diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh. Hal tersebut mencakup stabilitas pertumbuhan ekonomi, harga barang, serta nilai tukar mata uang.

“Kebijakan moneter akan difokuskan pada stabilitas pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, stabilitas nilai tukar, fleksibilitas tinggi untuk menurunkan suku bunga dan instrumen kebijakan lainnya,” kata PM Li Qiang.

Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah juga menargetkan Indeks Harga Konsumen (CPI) sekitar 2 persen pada 2026. Target tersebut sama dengan sasaran inflasi yang ditetapkan pada 2025.

Sementara itu, data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa perekonomian China pada 2025 tumbuh sebesar 5 persen. Angka tersebut diumumkan oleh Biro Statistik Nasional China pada Januari lalu dan dinilai sejalan dengan target yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya.

Secara rinci, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2025 mencapai 5,4 persen, kemudian 5,2 persen pada kuartal kedua. Pada kuartal ketiga pertumbuhan melambat menjadi 4,8 persen, sebelum kembali naik menjadi 5,2 persen pada kuartal keempat.

Secara keseluruhan, nilai produk domestik bruto (PDB) China pada 2025 mencapai 140,18 triliun yuan atau sekitar 20,05 triliun dolar Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh sejumlah sektor, termasuk konsumsi domestik dan industri.

Biro Statistik Nasional China mencatat bahwa peningkatan penjualan ritel menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir. Penjualan ritel tercatat naik 3,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan total nilai mencapai 50,12 triliun yuan.

Selain itu, sektor industri juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan output sebesar 5,9 persen. Investasi pada aset tetap di luar sektor properti juga meningkat 3,5 persen dengan nilai mencapai 48,518 triliun yuan.

Perdagangan internasional juga mencatat pertumbuhan. Total ekspor dan impor China pada 2025 meningkat 3,8 persen menjadi 45,46 triliun yuan.

Di sisi lain, inflasi di China relatif rendah. Indeks Harga Konsumen pada 2025 hanya naik sekitar 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi di negara tersebut masih berada dalam kondisi yang terkendali. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional