Delcy Rodríguez Dilantik Jadi Presiden, Pendukung Maduro Gelar Aksi

Delcy Rodríguez Dilantik Jadi Presiden, Pendukung Maduro Gelar Aksi

Bagikan:

CARACAS – Situasi politik Venezuela memasuki babak baru setelah Delcy Rodriguez resmi dilantik sebagai Presiden Venezuela dalam sebuah upacara di Majelis Nasional pada Senin (05/01/2026) waktu setempat. Pelantikan tersebut berlangsung di tengah gejolak politik dan tekanan internasional menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat dan pemindahannya ke New York untuk menghadapi proses hukum.

Seiring pelantikan Rodriguez, ribuan pendukung Nicolas Maduro turun ke jalan-jalan utama Caracas. Massa membanjiri pusat kota dengan mengibarkan bendera nasional Venezuela serta membawa spanduk yang menyuarakan dukungan terhadap Maduro. Aksi tersebut mencerminkan solidaritas kelompok pendukung pemerintah sekaligus menjadi bentuk protes atas penangkapan pemimpin yang mereka anggap sah.

Dikutip dari CNN, para pengunjuk rasa tampak memadati area sekitar gedung parlemen hingga ruas-ruas jalan strategis. Selain warga sipil, sejumlah anggota kelompok milisi pro-pemerintah yang dikenal sebagai “Colectivos” juga terlihat ikut serta dalam pawai. Kehadiran kelompok tersebut mempertegas eskalasi emosi publik di tengah situasi politik yang dinilai genting.

Rodriguez, yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden, mengucapkan sumpah jabatan di hadapan anggota parlemen. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa pelantikan tersebut dilakukan atas nama seluruh rakyat Venezuela, seraya menekankan komitmennya menjaga keberlanjutan pemerintahan dan kedaulatan negara di tengah tekanan eksternal.

Di luar gedung Majelis Nasional, massa terus menyuarakan tuntutan pembebasan Nicolas Maduro. Mereka meneriakkan yel-yel yang menyatakan loyalitas terhadap pemimpin yang kini ditahan di Amerika Serikat. Salah satu seruan yang menggema di antara massa berbunyi: “Maduro, bertahanlah: Venezuela bangkit!”

Di tengah kerumunan, sejumlah demonstran juga menyampaikan pandangan kritis terhadap langkah hukum yang diambil oleh pihak luar. Salah seorang peserta aksi, Flur Alberto (32), mengungkapkan pandangannya kepada AFP.

“Terlepas dari apakah Nicolas Maduro memiliki sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di pengadilan, ini bukanlah cara yang tepat untuk melakukannya,” kata Flur Alberto.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Nicolas Maduro tampak tiba di Heliport Downtown Manhattan sebelum dibawa menuju Gedung Pengadilan Daniel Patrick Moynihan di New York untuk menjalani sidang. Kehadiran Maduro di pengadilan AS menjadi sorotan internasional dan memicu reaksi keras dari pemerintah serta pendukungnya di Venezuela.

Sebelumnya, Mahkamah Agung Venezuela mengeluarkan keputusan yang memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk segera mengambil alih tugas pemerintahan sebagai penjabat presiden. Keputusan ini diambil setelah dinilai bahwa Maduro tidak memungkinkan untuk menjalankan kewajibannya sebagai kepala negara.

Dikutip dari Anadolu, Minggu (04/01/2026), pengadilan menegaskan bahwa Rodriguez ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan “dengan kepatuhan yang ketat terhadap Konstitusi dan hukum Venezuela.” Ketua Dewan Konstitusi Venezuela, Tania D’Amelio, menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan menjamin kesinambungan administrasi negara serta menjaga pertahanan nasional di tengah situasi luar biasa.

Pengadilan menilai bahwa kondisi hukum dan politik yang dihadapi Maduro membuatnya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan secara efektif. Oleh karena itu, pelimpahan wewenang kepada Rodriguez dipandang sebagai langkah konstitusional guna mencegah kekosongan kekuasaan.

Pelantikan Delcy Rodriguez dan aksi massa pendukung Maduro menandai fase krusial dalam perjalanan politik Venezuela. Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga stabilitas institusional, sementara di sisi lain, dukungan publik terhadap Maduro menunjukkan bahwa polarisasi politik di negara tersebut masih sangat kuat dan berpotensi terus berkembang. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional