Demo Ojol di Jakarta Pusat, Polisi Siagakan 918 Personel

Demo Ojol di Jakarta Pusat, Polisi Siagakan 918 Personel

Bagikan:

JAKARTA – Gelombang aspirasi pekerja ekonomi digital kembali menguat di Ibu Kota. Sejumlah komunitas pengemudi ojek online (ojol) dan pekerja platform digital menggelar aksi unjuk rasa serentak di dua titik strategis wilayah Jakarta Pusat, Senin (09/02/2026). Aksi ini mencerminkan meningkatnya kegelisahan pekerja sektor informal digital terhadap isu perlindungan kerja, kesejahteraan, dan regulasi hubungan kerja berbasis platform.

Dua lokasi dipilih sebagai pusat konsentrasi massa, yakni kawasan Tenda Putih Monumen Nasional (Monas), Gambir, serta depan kantor Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) di Jalan MH Thamrin. Kehadiran massa dalam jumlah besar membuat aparat kepolisian melakukan pengamanan intensif untuk memastikan kegiatan berlangsung tertib dan tidak mengganggu stabilitas keamanan kota.

Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, menjelaskan bahwa unjuk rasa pertama digelar di kawasan Monas dan melibatkan sejumlah aliansi pekerja platform.

“Pagi ada unjuk rasa dari Aliansi Simpul Rembuk Pekerja Platform (SEPETA, STI-KASBI, Federasi SPEED & SPPOI) serta beberapa elemen massa lain,” ujar Erlyn dalam keterangan tertulisnya, Senin (09/02/2026).

Sementara itu, aksi kedua berlangsung di depan kantor ILO, yang secara simbolik merepresentasikan tuntutan pekerja terhadap standar perlindungan tenaga kerja internasional. Pemilihan lokasi ini dinilai sebagai pesan politik dan sosial agar isu pekerja platform digital tidak hanya dipandang sebagai persoalan lokal, tetapi juga bagian dari agenda global ketenagakerjaan modern.

Untuk mengamankan jalannya kegiatan, kepolisian menyiagakan ratusan personel gabungan. Menurut Erlyn, sebanyak 918 personel disebar di dua titik aksi untuk menjaga ketertiban umum, mengatur arus lalu lintas, serta mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan damai dan kondusif.

Selain pengamanan, aparat juga menyiapkan skema rekayasa lalu lintas secara situasional. Pengaturan ini disesuaikan dengan dinamika di lapangan, baik dari sisi jumlah massa maupun kepadatan kendaraan. Polisi menekankan bahwa pengalihan arus bersifat fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi terkini.

Erlyn juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam merencanakan perjalanan di sekitar kawasan Jakarta Pusat. “Warga bisa mencari jalan alternatif lain selama unjuk rasa berjalan,” katanya.

Aksi ini tidak hanya berdampak pada lalu lintas dan aktivitas warga, tetapi juga menjadi refleksi dinamika baru dunia kerja digital. Para pengemudi ojol dan pekerja platform kini semakin aktif menyuarakan hak-hak mereka di ruang publik, menandai pergeseran pola advokasi dari individual ke kolektif. Demonstrasi ini memperlihatkan bahwa sektor ekonomi digital tidak lagi sekadar isu teknologi, tetapi telah menjadi isu sosial, ketenagakerjaan, dan kebijakan publik.

Di tengah pengamanan ketat dan pengaturan lalu lintas, aparat kepolisian menegaskan komitmennya untuk menjamin hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum, sekaligus menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. Aksi unjuk rasa tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana ruang kota Jakarta terus menjadi arena pertemuan antara kepentingan publik, dinamika ekonomi digital, dan tata kelola keamanan perkotaan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Hotnews Nasional