PYONGYANG – Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah, Korea Utara justru melakukan langkah militer yang cukup signifikan namun relatif luput dari sorotan internasional. Negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un tersebut dilaporkan menguji coba rudal jelajah dari kapal perang terbarunya sebagai bagian dari penguatan kemampuan tempur angkatan laut.
Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, mengawasi langsung uji coba rudal dari kapal perusak Choe Hyon berbobot 5.000 ton tersebut pada Rabu (04/03/2026). Uji coba itu disebut menjadi bagian penting dari pengembangan kekuatan militer maritim negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Kim menilai pengujian tersebut merupakan komponen utama dari sistem persenjataan kapal perang baru yang ia sebut sebagai simbol kemampuan pertahanan laut Korea Utara. Kapal perusak tersebut menjadi salah satu proyek strategis Pyongyang dalam upaya memodernisasi armada militernya.
Kunjungan Kim dilakukan di Galangan Kapal Nampo yang terletak di wilayah barat Korea Utara. Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong percepatan pembangunan kapal perang lain yang memiliki spesifikasi serupa, bahkan dengan kemampuan yang lebih maju.
“Kekuatan Angkatan Laut kita untuk menyerang dari bawah dan di atas air akan tumbuh pesat. Persenjataan Angkatan Laut dengan senjata nuklir menunjukkan kemajuan yang memuaskan,” ujar Kim, menurut Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Kim, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan maritim Korea Utara. Ia bahkan menilai perkembangan teknologi militer yang dicapai saat ini sebagai perubahan besar yang belum pernah diraih dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara itu, kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mencatat bahwa penggunaan istilah “senjata strategis” oleh Korea Utara sering kali merujuk pada sistem persenjataan yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir. Hal ini memunculkan dugaan bahwa rudal yang diuji coba dari kapal perang tersebut juga memiliki potensi serupa.
Selama kunjungan dua hari tersebut, Kim juga melakukan inspeksi terhadap kapal perusak Choe Hyon yang merupakan kapal utama dari proyek pembangunan kapal perang kelas 5.000 ton yang dikembangkan secara mandiri oleh Pyongyang.
Meski demikian, proyek modernisasi angkatan laut Korea Utara tidak selalu berjalan mulus. Pada Mei 2025 lalu, program ini sempat mengalami insiden yang memalukan ketika kapal perusak kedua dari kelas yang sama mengalami kecelakaan saat proses peluncuran di Galangan Kapal Chongjin.
Dalam laporan yang jarang terjadi mengenai kegagalan militer, KCNA menyebut insiden tersebut terjadi akibat kesalahan mekanisme peluncuran. Bagian buritan kapal dilaporkan tergelincir ke air lebih awal dari jadwal sehingga menyebabkan kerusakan pada lambung kapal.
Saat itu, Kim Jong Un secara terbuka mengkritik keras kejadian tersebut. Ia menyebut kegagalan tersebut sebagai “tindakan kriminal” yang disebabkan oleh kelalaian serta kecerobohan sejumlah lembaga negara yang terlibat dalam proyek tersebut.
Uji coba rudal terbaru ini berlangsung tidak lama setelah Kim Jong Un menyampaikan janji dalam Kongres Partai Buruh untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Korea Utara. Dalam pidatonya, ia mengakui bahwa pemerintah menghadapi tantangan besar dalam pembangunan ekonomi nasional.
“Hal ini menuntut kita untuk melakukan perjuangan yang lebih aktif dan gigih tanpa membiarkan adanya kemandekan atau stagnasi sedetik pun,” tuturnya dalam kongres tersebut.
Meski demikian, berbagai pengamat internasional menilai bahwa kebijakan Korea Utara masih tetap menempatkan pengembangan militer terutama senjata nuklir sebagai prioritas utama. Pyongyang berulang kali menyatakan bahwa penguatan kemampuan militer diperlukan untuk menghadapi tekanan dari Amerika Serikat serta sekutunya di kawasan, termasuk Korea Selatan.
Di tengah tekanan sanksi internasional dan tantangan ekonomi domestik, langkah Korea Utara memperkuat kekuatan lautnya menunjukkan bahwa program militer negara tersebut masih terus berjalan dan menjadi fokus utama pemerintahan Kim Jong Un. []
Diyan Febriana Citra.

