BAGHDAD – Situasi keamanan di Irak kembali memanas setelah serangkaian serangan drone dan roket dilaporkan terjadi pada Jumat (06/03/2026) malam waktu setempat. Beberapa lokasi strategis, termasuk bandara dan fasilitas industri minyak, menjadi sasaran dalam rangkaian serangan tersebut.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah Bandara Internasional Baghdad, yang berada di ibu kota Baghdad. Bandara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat transportasi udara, tetapi juga menjadi lokasi pangkalan militer serta fasilitas diplomatik milik Amerika Serikat.
Seorang pejabat keamanan Irak menyebutkan bahwa serangan terhadap kawasan bandara dilakukan menggunakan sejumlah drone dan rudal. Insiden tersebut dilaporkan memicu kebakaran di area sekitar bandara.
Sumber keamanan lain juga mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi setelah drone menghantam area bandara pada Jumat (06/03/2026) malam. Petugas keamanan kemudian melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan.
Sebelum serangan itu terjadi, otoritas Irak melaporkan adanya peluncuran roket dari wilayah Abu Ghraib, kawasan yang terletak di sekitar Baghdad. Aparat keamanan kemudian melakukan penyelidikan dan menemukan sebuah kendaraan yang diduga digunakan dalam aksi tersebut.
Kendaraan itu masih membawa sejumlah roket yang belum sempat ditembakkan. Temuan tersebut langsung diamankan oleh pasukan keamanan guna mencegah serangan lanjutan.
Selain di Baghdad, serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah selatan Irak, tepatnya di Basra. Daerah ini dikenal sebagai pusat industri minyak negara tersebut karena banyak perusahaan energi internasional beroperasi di sana.
Menurut seorang pejabat keamanan setempat, kompleks minyak di kawasan Burjesia menjadi salah satu target serangan drone. Dalam insiden itu, dua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai sasaran.
Namun, satu drone lainnya dilaporkan berhasil lolos dari pencegatan dan menghantam fasilitas yang berada di dalam kompleks tersebut. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan fasilitas energi yang menjadi tulang punggung ekonomi Irak.
Sebelumnya, kawasan kompleks minyak Burjesia juga pernah menjadi sasaran serangan bersama dengan beberapa ladang minyak lain serta Bandara Basra.
Irak selama bertahun-tahun berada di tengah rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Persaingan pengaruh antara kedua negara itu kerap memicu ketegangan keamanan di wilayah tersebut.
Pemerintah di Baghdad sendiri berulang kali menyatakan tidak ingin negaranya terlibat dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Meski demikian, posisi Irak yang strategis membuatnya sering terdampak oleh eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah serangan sebelumnya disebut-sebut menargetkan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di Irak. Serangan tersebut dikaitkan dengan operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat maupun Israel.
Kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak juga menyatakan tidak akan bersikap netral dalam konflik yang berkembang di kawasan. Mereka bahkan mengklaim telah melakukan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Irak serta wilayah sekitarnya.
Sementara itu, wilayah otonomi Kurdistan Irak di bagian utara negara tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Ledakan terdengar di sekitar bandara di Erbil, ibu kota wilayah otonomi tersebut.
Pasukan koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat dilaporkan melakukan pencegatan terhadap sejumlah drone yang terdeteksi di udara. Aparat keamanan Kurdi menyatakan bahwa koalisi berhasil menjatuhkan empat drone bermuatan bahan peledak di atas wilayah Erbil.
Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan peringatan terkait potensi serangan oleh kelompok bersenjata pro-Iran. Peringatan tersebut khususnya ditujukan terhadap hotel-hotel di kawasan Kurdistan yang sering digunakan oleh warga negara asing.
Rangkaian insiden ini kembali menyoroti rapuhnya stabilitas keamanan di Irak, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Aparat keamanan setempat masih terus melakukan penyelidikan guna mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut serta mencegah aksi serupa di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

