DNIPROPETROVSK – Serangan drone yang kembali menghantam wilayah sipil di Ukraina menambah daftar panjang korban konflik bersenjata yang masih berlangsung. Kali ini, sebuah bus yang mengangkut pekerja tambang menjadi sasaran serangan udara Rusia di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina bagian tengah-timur, pada Minggu (01/02/2026). Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 12 orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Bus tersebut diketahui tengah melintas di sekitar Ternivka, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 65 kilometer dari garis depan pertempuran. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan industri dan pertambangan, dengan aktivitas transportasi pekerja yang berlangsung setiap hari. Menurut keterangan kepolisian setempat, kendaraan tersebut sedang dalam perjalanan ketika serangan terjadi, sehingga para penumpang tidak sempat menyelamatkan diri.
Perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, DTEK, menyampaikan bahwa para korban merupakan pekerja tambang yang baru saja menyelesaikan giliran kerja. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu fasilitas pertambangan milik perusahaan tersebut di wilayah Dnipropetrovsk. Bus yang diserang merupakan kendaraan antar-jemput yang biasa digunakan untuk mengangkut karyawan dari lokasi kerja menuju permukiman mereka.
Dampak serangan terlihat jelas dari dokumentasi yang dirilis dinas darurat negara Ukraina. Gambar-gambar tersebut menunjukkan sebuah bus dalam kondisi rusak parah, dengan kaca samping pecah dan kaca depan menggantung di bagian depan kendaraan. Tidak tampak penumpang di dalam bus, mengindikasikan bahwa para korban telah dievakuasi oleh petugas penyelamat.
Pemerintah daerah setempat membenarkan jumlah korban sementara dan menyatakan bahwa operasi evakuasi serta penanganan medis dilakukan segera setelah kejadian.
“Drone musuh menghantam di dekat bus antar-jemput perusahaan di Distrik Pavlograd. Sementara ini, 12 orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka,” kata Kepala Administrasi Militer Regional, Oleksandr Ganzha, melalui Telegram dilansir AFP.
Hingga saat ini, AFP belum dapat segera memverifikasi secara independen kondisi serta kronologi detail serangan tersebut. Namun, insiden ini menambah kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko keselamatan warga sipil, khususnya para pekerja sektor industri yang tetap menjalankan aktivitas ekonomi di tengah situasi konflik.
Serangan ini juga terjadi pada momentum yang dinilai sensitif secara politik dan diplomatik. Pada hari yang sama, pengurangan sepihak serangan Rusia terhadap Ukraina yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berakhir. Sebelumnya, Trump menyampaikan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyepakati penghentian serangan terhadap Kyiv dan sejumlah kota lain selama musim dingin.
Namun, kesepakatan tersebut belum memiliki kejelasan teknis yang tegas. Tidak ada rincian resmi mengenai wilayah yang termasuk dalam penghentian serangan, mekanisme pengawasan, maupun durasi kebijakan tersebut. Di sisi lain, pihak Kremlin juga tidak secara eksplisit mengaitkan dugaan gencatan senjata itu dengan faktor cuaca, sehingga menimbulkan ketidakpastian di lapangan.
Serangan terhadap bus pekerja tambang ini memperlihatkan bahwa situasi keamanan di Ukraina masih sangat rapuh. Aktivitas sipil, termasuk transportasi pekerja, tetap berada dalam risiko tinggi akibat eskalasi konflik bersenjata. Peristiwa ini juga menegaskan dampak kemanusiaan yang terus berlanjut, di mana warga sipil dan pekerja industri menjadi kelompok yang paling rentan terdampak perang. []
Diyan Febriana Citra.

