LONDON – Langkah aparat penegak hukum Inggris kembali menyorot figur publik berpengaruh. Kepolisian Metropolitan London mengonfirmasi pembebasan dengan jaminan terhadap Peter Mandelson, mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, pada Selasa (24/02/2026) dini hari. Mandelson sebelumnya ditangkap terkait dugaan pelanggaran dalam jabatan publik yang diduga beririsan dengan relasinya bersama mendiang Jeffrey Epstein.
Penangkapan Mandelson yang kini berusia 72 tahun itu dilakukan menyusul penggeledahan aparat di dua lokasi berbeda, yakni di Wiltshire dan kawasan Camden, London. Kepolisian menyatakan bahwa proses hukum masih berjalan dan penyelidikan belum rampung. Dalam keterangan resminya, polisi menegaskan bahwa status jaminan diberikan agar penyidik dapat melanjutkan pendalaman perkara tanpa melakukan penahanan lanjutan.
“Seorang pria yang ditangkap karena dicurigai melakukan pelanggaran dalam jabatan publik telah dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut,” bunyi pernyataan resmi Kepolisian Metropolitan sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (24/02/2026).
Kasus ini mencuat setelah sejumlah dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengaitkan nama Mandelson dengan Epstein. Dalam dokumen tersebut, Mandelson disebut-sebut pernah membocorkan informasi politik dan pasar yang bersifat sensitif. Informasi itu diduga disampaikan kepada Epstein, yang telah lama dikenal sebagai terpidana kasus kejahatan seksual dan memiliki jejaring luas di kalangan elite global.
Mandelson secara tegas membantah tudingan tersebut dan menyatakan tidak melakukan pelanggaran apa pun. Namun, berkas yang beredar di publik memuat korespondensi elektronik pada 2009 yang memperlihatkan adanya pembahasan terkait potensi kebijakan, termasuk rencana pajak atas bonus bankir serta konfirmasi awal mengenai paket penyelamatan zona euro sebelum diumumkan secara resmi.
Penggeledahan terhadap properti yang terkait dengan Mandelson dilakukan pada 6 Februari lalu. Beberapa hari sebelum penangkapan, tokoh politik senior yang kerap disebut sebagai “makelar politik” itu mengundurkan diri dari keanggotaannya di House of Lords, sebuah langkah yang dinilai banyak pihak sebagai upaya menjaga integritas lembaga legislatif di tengah sorotan publik.
Kasus Mandelson juga muncul dalam konteks yang lebih luas. Penangkapannya terjadi kurang dari sepekan setelah mantan Pangeran Andrew turut diamankan polisi atas dugaan pelanggaran serupa. Andrew, yang kini dikenal sebagai Andrew Mountbatten-Windsor, kemudian dibebaskan “dalam penyelidikan”, istilah hukum yang menunjukkan belum adanya dakwaan resmi maupun pembebasan penuh dari tuduhan.
Secara politik, perjalanan karier Mandelson memang sarat kontroversi. Ia mulai dikenal luas sejak aktif di Partai Buruh Inggris pada era 1980-an dan menjadi arsitek penting kemenangan telak Tony Blair pada Pemilu 1997. Namun, ia dua kali mengundurkan diri dari kabinet akibat persoalan etika, sebelum akhirnya kembali menjabat sebagai menteri bisnis di era Gordon Brown dan diangkat menjadi anggota House of Lords pada 2008.
Hubungan pertemanan Mandelson dengan Epstein telah diketahui publik jauh sebelum penunjukannya sebagai duta besar Inggris untuk AS oleh Perdana Menteri Keir Starmer. Ketika dugaan kebocoran informasi sensitif kembali mencuat, tekanan politik pun mengarah ke pemerintahan Starmer, yang dituntut menunjukkan sikap tegas dalam menjunjung akuntabilitas pejabat negara.
Hingga kini, Kepolisian Metropolitan London menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan semua pihak yang terlibat akan diperlakukan sesuai prinsip praduga tak bersalah. Perkembangan perkara ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan, mengingat implikasinya tidak hanya pada ranah hukum, tetapi juga pada stabilitas dan kepercayaan publik terhadap institusi politik Inggris. []
Diyan Febriana Citra.

