JEPANG – Aktivitas seismik kembali mengguncang Jepang setelah gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo terjadi di Prefektur Shimane, Selasa (06/01/2026). Guncangan tersebut dirasakan di sejumlah wilayah sekitar pusat gempa dan memicu kewaspadaan otoritas setempat mengingat Jepang berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang rawan gempa bumi.
Dikutip dari Reuters, Badan Meteorologi Jepang menyampaikan bahwa pusat gempa berada di bagian timur Prefektur Shimane. Gempa terjadi pada kedalaman menengah dan tercatat oleh sejumlah stasiun pemantau gempa yang tersebar di wilayah barat Jepang. Meski kekuatannya tergolong signifikan, otoritas memastikan bahwa hingga saat ini belum ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.
Guncangan dilaporkan dirasakan oleh warga di Shimane serta beberapa prefektur di sekitarnya, termasuk Hiroshima dan Tottori. Sejumlah warga menyebutkan getaran berlangsung selama beberapa detik, cukup kuat untuk menggoyangkan bangunan dan perabot rumah tangga. Namun, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan besar maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
Pemerintah daerah bersama aparat penanggulangan bencana segera melakukan pemantauan lapangan sesaat setelah gempa terjadi. Tim tanggap darurat dikerahkan untuk memeriksa kondisi infrastruktur penting, seperti jalan raya, jembatan, fasilitas umum, serta jaringan listrik dan komunikasi. Hingga beberapa jam setelah kejadian, layanan publik dilaporkan masih berjalan normal.
Badan Meteorologi Jepang juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Meski tidak ada ancaman tsunami, potensi gempa lanjutan dengan kekuatan lebih kecil masih mungkin terjadi, sebagaimana lazimnya aktivitas seismik di wilayah tersebut. Warga diminta menjauhi bangunan yang mengalami retakan dan mengikuti arahan dari otoritas setempat.
Prefektur Shimane sendiri berada di wilayah pesisir Laut Jepang dan memiliki riwayat aktivitas gempa yang cukup tinggi. Pemerintah Jepang selama bertahun-tahun telah mengembangkan sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan untuk meminimalkan dampak gempa terhadap masyarakat. Sistem tersebut memungkinkan peringatan disebarluaskan dalam hitungan detik setelah gempa terdeteksi.
Para ahli seismologi menilai gempa bermagnitudo 6,2 termasuk kategori menengah hingga kuat, namun dampaknya sangat bergantung pada kedalaman pusat gempa serta kondisi geologis setempat. Dalam banyak kasus di Jepang, standar konstruksi bangunan yang tahan gempa terbukti efektif mengurangi risiko kerusakan dan korban.
Sejumlah sekolah dan perkantoran di wilayah terdampak dilaporkan sempat menghentikan aktivitas sementara untuk memastikan keselamatan penghuni gedung. Setelah dilakukan pemeriksaan singkat dan tidak ditemukan kerusakan serius, aktivitas berangsur kembali normal.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Jepang masih terus mengumpulkan data dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak gempa. Pemerintah pusat melalui Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana memastikan siap memberikan dukungan tambahan apabila diperlukan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Jepang. Dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi, kewaspadaan masyarakat serta respons cepat pemerintah menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak gempa bumi di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

