JAKARTA — Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah perairan Sulawesi Utara. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 mengguncang kawasan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, pada Rabu (07/01/2026) pagi. Guncangan tersebut tercatat terjadi pada pukul 10.02 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah sekitar, meskipun hingga kini belum dilaporkan adanya kerusakan maupun korban jiwa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa gempa tersebut tergolong gempa menengah dengan kedalaman 75 kilometer. Berdasarkan hasil analisis awal, pusat gempa berada di laut, cukup jauh dari permukiman penduduk, sehingga potensi dampak merusak dapat diminimalkan.
BMKG menjelaskan episenter gempa berada pada koordinat 8,16 Lintang Utara dan 127,20 Bujur Timur, atau sekitar 465 kilometer timur laut Melonguane, Sulawesi Utara. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari pemutakhiran cepat untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.
“Gempa Mag:6.5, 07-Jan-2026 10:02:48WIB, Lok:8.16LU, 127.20BT (465 km TimurLaut MELONGUANE-SULUT), Kedlmn:75 Km,” tulis BMKG dalam keterangannya dikutip Rabu (07/01/2026).
Meski berkekuatan cukup besar, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Kedalaman hiposenter dan karakteristik sumber gempa membuat energi getaran lebih banyak teredam di dalam bumi. Namun demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Wilayah Kepulauan Talaud dan sekitarnya memang berada di zona rawan gempa karena posisinya yang berdekatan dengan pertemuan lempeng tektonik. Kondisi geografis ini menjadikan aktivitas gempa sebagai fenomena alam yang relatif sering terjadi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko bencana.
BMKG menegaskan bahwa hingga laporan ini disusun, belum ada informasi mengenai kerusakan bangunan, gangguan infrastruktur, maupun korban akibat gempa tersebut. Tim pemantau masih terus mengumpulkan data dari berbagai sensor dan laporan lapangan untuk memastikan dampak sebenarnya.
Selain itu, BMKG mengingatkan bahwa informasi awal gempa bersifat sementara dan dapat mengalami pembaruan seiring masuknya data tambahan dari stasiun pemantau di berbagai wilayah.
“Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” tulis BMKG.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait diharapkan tetap siaga dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika terjadi gempa susulan. Masyarakat juga diimbau tidak mudah terpancing isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta selalu merujuk pada sumber resmi seperti BMKG untuk memperoleh informasi yang akurat.
Kejadian ini kembali menjadi pengingat pentingnya edukasi kebencanaan, terutama di wilayah rawan gempa. Pemahaman tentang prosedur penyelamatan diri dan kesiapan menghadapi situasi darurat menjadi kunci untuk mengurangi dampak apabila bencana alam kembali terjadi. []
Diyan Febriana Citra.

