AMSTERDAM – Peristiwa kebakaran besar yang melanda Gereja Vondelkerk di pusat Kota Amsterdam menjadi awal tahun yang kelam bagi pelestarian warisan sejarah Belanda. Bangunan bersejarah berusia lebih dari satu setengah abad itu dilaporkan hangus terbakar pada Kamis (01/01/2026) dini hari waktu setempat dan dinyatakan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan parah yang ditimbulkan.
Vondelkerk, gereja bergaya neo-Gotik yang menghadap langsung ke kawasan Vondelpark taman terbesar di Amsterdam—selama ini dikenal sebagai salah satu ikon arsitektur kota. Kebakaran tersebut dengan cepat menyedot perhatian publik setelah rekaman video dan foto tersebar luas di media sosial. Dalam visual tersebut, kobaran api tampak melahap atap dan menara gereja, sementara petugas pemadam kebakaran berupaya menjinakkan api dengan menyemprotkan air dari ketinggian menggunakan tangga putar.
Petugas pemadam kebakaran dilaporkan bekerja selama berjam-jam untuk mengendalikan api agar tidak merambat ke bangunan lain di sekitarnya. Namun, kondisi struktur gereja yang sebagian besar terbuat dari material lama membuat api dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan.
Juru bicara layanan darurat setempat menyampaikan bahwa tingkat kerusakan bangunan sudah berada pada fase kritis. “Bangunan ini tidak dapat diselamatkan lagi. Seluruh gereja kemungkinan akan runtuh,” ujarnya kepada media setempat, seperti dikutip Jumat (02/01/2026).
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Vondelkerk, yang berdiri sejak akhir abad ke-19, praktis kehilangan hampir seluruh elemen struktural utamanya. Menara gereja setinggi sekitar 50 meter dilaporkan runtuh, sementara atap bangunan mengalami kerusakan berat akibat amukan api.
Vondelkerk dirancang oleh arsitek ternama Pierre Cuypers, tokoh penting dalam sejarah arsitektur Belanda yang juga dikenal sebagai perancang Rijksmuseum. Gereja ini diresmikan sekitar 154 tahun lalu dan sempat berfungsi sebagai tempat ibadah sebelum akhirnya dijual oleh pihak keuskupan pada 1977. Sejak saat itu, Vondelkerk dialihfungsikan menjadi ruang publik multiguna yang kerap digunakan untuk acara seni, pameran, dan kegiatan budaya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian akibat kebakaran ini dinilai sangat besar, terutama dari sisi nilai sejarah dan budaya. Otoritas setempat memastikan bahwa tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut, baik dari warga maupun petugas pemadam kebakaran.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan. Insiden ini terjadi di tengah suasana Malam Tahun Baru yang diwarnai kekacauan di sejumlah wilayah Belanda. Perayaan pergantian tahun dilaporkan diwarnai oleh maraknya penggunaan kembang api secara berlebihan serta sejumlah aksi kekerasan yang menyasar aparat keamanan.
Kepala Serikat Polisi Belanda, Nine Kooiman, menggambarkan situasi Malam Tahun Baru sebagai kondisi yang sangat ekstrem. Ia menyebut aparat di berbagai kota menghadapi eskalasi ancaman yang tidak biasa.
“Tingkat kekerasan yang kami hadapi benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.
Meski belum ada konfirmasi resmi yang mengaitkan langsung kebakaran Vondelkerk dengan insiden kekerasan atau penggunaan kembang api pada Malam Tahun Baru, peristiwa ini memperpanjang daftar kejadian serius yang mewarnai pergantian tahun di Eropa.
Bagi warga Amsterdam, musibah ini bukan sekadar kehilangan sebuah bangunan tua, melainkan juga hilangnya bagian penting dari identitas kota. Vondelkerk selama puluhan tahun telah menjadi saksi perjalanan sejarah, perubahan fungsi ruang kota, serta dinamika kehidupan sosial masyarakat Belanda. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing dan duka mendalam atas lenyapnya salah satu simbol bersejarah Amsterdam. []
Diyan Febriana Citra.

