Gunung Sampah Pasar Induk Kramat Jati Picu Keluhan Warga

Gunung Sampah Pasar Induk Kramat Jati Picu Keluhan Warga

Bagikan:

JAKARTA – Persoalan pengelolaan sampah kembali menjadi sorotan di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Tumpukan sampah yang menggunung di tempat penampungan sementara (TPS) pasar tersebut bukan hanya menimbulkan bau menyengat, tetapi juga berdampak langsung pada lingkungan permukiman warga di sekitarnya.

Pantauan di lokasi pada Rabu (07/01/2026) menunjukkan kondisi TPS Pasar Induk Kramat Jati yang dipenuhi sampah hingga menyerupai bukit. Tinggi tumpukan sampah diperkirakan melebihi enam meter, bahkan melampaui tinggi truk pengangkut yang hilir mudik di area pasar. Volume sampah yang terus bertambah membuat kawasan sekitar terlihat kumuh dan tak terawat.

Selain bau busuk yang menyengat hidung, kondisi jalan di sekitar TPS juga memprihatinkan. Air lindi bercampur sisa-sisa sampah mengalir dan menggenangi permukaan jalan, menyebabkan area menjadi becek dan licin. Situasi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga dan pedagang, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Dampak serius dari tumpukan sampah tersebut dirasakan langsung oleh warga sekitar. Salah satunya adalah jebolnya tembok pembatas yang memisahkan area pasar dengan permukiman penduduk. Syahrul (50), warga sekitar Pasar Induk Kramat Jati, menduga tembok tersebut roboh akibat tekanan sampah yang menumpuk terlalu tinggi.

“Penyebabnya karena tertingginya sampah saja. Tingginya sampah dia terlalu mendorong, mendorong tembok, akhirnya mengenai beban tembok roboh begitu,” ungkap Syahrul.

Ia menjelaskan bahwa kejadian tembok jebol tersebut terjadi sekitar satu bulan terakhir. Akibatnya, puing-puing beton dan tiang tembok masuk ke saluran air, memperparah kondisi drainase di kawasan itu.

“Belum lama, ada berapa bulan belum lama. Paling masih ada sebulanan itu mah. Tembok jebol ini mah,” tuturnya.

Keluhan serupa disampaikan Roni (57), warga RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, Kramat Jati. Ia mengaku bau sampah dari TPS Pasar Induk Kramat Jati kerap tercium hingga ke rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi.

“Saya tinggal di RT 03/RW 04, baunya itu sampai sama. Padahal posisinya sekitar 200 meter dari tempat sampah di Pasar Induk ini,” kata Roni.

Menurut Roni, salah satu penyebab utama menumpuknya sampah adalah ketidakseimbangan antara volume sampah yang dihasilkan pasar dengan jumlah armada pengangkut yang tersedia. Kondisi tersebut membuat sampah tertahan lebih lama di TPS dan terus bertambah setiap hari.

Bau menyengat tersebut, lanjut Roni, dirasakan oleh warga di berbagai RT di RW 04 Kelurahan Tengah, mulai dari RT 03, RT 06, RT 07, RT 08, RT 09, hingga RT 12. Tak hanya bau, keberadaan sampah juga mengundang banyak lalat yang masuk ke rumah-rumah warga.

“Kalau musim buah saja sih lalat penuhnya banyak kalau musim buah. Depan rumah lalat banyak. Kalau musim buah saja itu mah,” kata Syahrul.

Syahrul menegaskan bahwa masalah sampah di Pasar Induk Kramat Jati bukanlah persoalan baru. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun, meski dalam sebulan terakhir tumpukan sampah meningkat drastis.

“Sudah lama lah, sudah bukan lama lagi, sudah tahunan, tapi hampir ada sebulan terakhir lah yang tinggi,” jelas Syahrul.

Warga berharap ada langkah cepat dan konkret dari pihak terkait untuk mengatasi persoalan sampah tersebut, sebelum dampaknya semakin meluas dan membahayakan kesehatan serta keselamatan lingkungan sekitar. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Nasional