Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Risiko Geopolitik Global

Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Risiko Geopolitik Global

Bagikan:

NEW YORK — Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah dunia mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (14/01/2026). Kenaikan harga yang melampaui dua persen tersebut mencerminkan meningkatnya kecemasan pelaku pasar terhadap risiko geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan Iran, meskipun terdapat peluang tambahan pasokan dari negara lain seperti Venezuela.

Minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup menguat US$ 1,60 atau sekitar 2,5 persen ke level US$ 65,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik US$ 1,65 atau 2,8 persen dan berakhir di posisi US$ 61,15 per barel. Kenaikan ini menandai perubahan sentimen pasar yang sebelumnya lebih fokus pada prospek pemulihan pasokan.

Analis menilai, reli harga minyak kali ini tidak semata-mata didorong oleh faktor fundamental permintaan, melainkan lebih pada upaya pasar membangun “perlindungan harga” terhadap potensi gangguan pasokan. Analis PVM Oil Associates, John Evans, menyebutkan bahwa berbagai risiko global kini kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar energi.

“Pasar minyak saat ini mulai membangun perlindungan harga terhadap berbagai risiko geopolitik,” ujar Evans. Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran tidak hanya datang dari kemungkinan tersingkirnya ekspor minyak Iran, tetapi juga persoalan pasokan Venezuela, dinamika perang Rusia–Ukraina, serta isu strategis lain yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat di berbagai kawasan.

Iran, sebagai salah satu produsen utama dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), saat ini tengah berada dalam tekanan politik domestik yang berat. Gelombang demonstrasi antipemerintah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa produksi dan ekspor minyak Iran dapat terganggu.

Aksi represif aparat keamanan terhadap demonstran, yang dilaporkan menewaskan sekitar 2.000 orang serta memicu ribuan penangkapan, turut memperkeruh situasi. Kondisi ini menarik perhatian Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras yang berpotensi berdampak langsung pada perdagangan energi global.

Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap melakukan bisnis dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen atas seluruh transaksi dagang dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini menjadi sorotan pasar, mengingat China saat ini tercatat sebagai pembeli terbesar minyak mentah Iran.

Analis Mizuho Securities, Bob Yawger, menilai bahwa meskipun kecil kemungkinan China sepenuhnya menghentikan impor minyak dari Iran, dampaknya akan sangat besar jika skenario tersebut benar-benar terjadi.

“Kecil kemungkinan China akan menghindari pasokan minyak dari Iran. Namun, jika itu terjadi dan diikuti negara lain, pasokan global bisa berkurang sekitar 3,3 juta barel per hari yang saat ini disuplai Iran ke pasar,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

Ketegangan geopolitik tidak hanya terpusat di Timur Tengah. Sinyal gangguan pasokan juga muncul dari kawasan Laut Hitam. Empat kapal tanker minyak yang dikelola perusahaan Yunani dilaporkan menjadi sasaran serangan drone tak dikenal saat berlayar menuju terminal Caspian Pipeline Consortium di lepas pantai Rusia. Insiden tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar akan terganggunya distribusi minyak global.

Kombinasi ketidakpastian politik, ancaman sanksi, dan risiko keamanan jalur distribusi membuat pasar minyak kembali sensitif terhadap isu geopolitik. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga energi global masih sangat rentan terhadap perkembangan politik internasional, meskipun ada upaya peningkatan pasokan dari sejumlah negara produsen. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional