JAKARTA — Pergerakan pasar saham domestik mengawali perdagangan awal pekan dengan tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah tajam pada Senin (02/03/2026), mencerminkan sikap waspada pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global dan domestik yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG tercatat turun 142,59 poin atau setara 1,73 persen ke level 8.092,90. Pelemahan ini menandai koreksi lanjutan setelah pasar saham sebelumnya menunjukkan volatilitas tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global, khususnya yang berkaitan dengan kondisi geopolitik dan arah kebijakan moneter negara-negara utama.
Tekanan tidak hanya terjadi pada indeks utama. Kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami penurunan. Indeks tersebut merosot 12,65 poin atau 1,52 persen ke posisi 821,71. Penurunan serempak ini mengindikasikan aksi jual yang relatif merata, termasuk pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama kinerja pasar.
Sejumlah analis menilai pelemahan IHSG pada awal pekan tidak terlepas dari meningkatnya kehati-hatian investor global. Ketegangan geopolitik internasional yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Dari dalam negeri, pasar juga masih mencermati berbagai faktor fundamental. Realisasi kinerja emiten sepanjang awal tahun, arah kebijakan fiskal pemerintah, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional menjadi perhatian utama investor. Di tengah ekspektasi tersebut, sebagian pelaku pasar memilih mengambil sikap wait and see sembari menunggu kepastian sentimen yang lebih kuat.
Aktivitas perdagangan pada awal sesi menunjukkan tekanan jual lebih dominan dibandingkan aksi beli. Sejumlah sektor tercatat bergerak di zona merah, sejalan dengan pelemahan indeks utama. Saham-saham perbankan, komoditas, dan infrastruktur yang sebelumnya menopang reli pasar, turut mengalami koreksi seiring aksi ambil untung dan pergeseran portofolio investor.
Meski demikian, pelaku pasar menilai koreksi ini masih berada dalam batas wajar, mengingat IHSG sebelumnya sempat berada di level tinggi. Koreksi jangka pendek kerap dipandang sebagai bagian dari mekanisme pasar untuk mencari keseimbangan baru. Investor jangka panjang pun masih mencermati peluang akumulasi saham-saham dengan fundamental kuat apabila tekanan pasar berlanjut.
Otoritas pasar modal mengimbau investor untuk tetap mencermati perkembangan informasi secara menyeluruh dan tidak mengambil keputusan secara emosional. Dinamika pasar yang fluktuatif dinilai memerlukan strategi investasi yang disiplin, terutama dalam mengelola risiko di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, arah pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, termasuk perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral utama dunia, serta sentimen domestik seperti data ekonomi dan kinerja korporasi. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. []
Diyan Febriana Citra.

