ISLAMABAD – Rencana negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Sabtu (11/04/2026) terancam batal. Iran menegaskan dua prasyarat utama harus dipenuhi sebelum perundingan dimulai, yakni penghentian serangan Israel di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Sikap tegas tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Menurutnya, kesepakatan awal yang telah dibicarakan kedua pihak belum sepenuhnya dijalankan sehingga perundingan belum layak dilanjutkan.
“Dua dari langkah-langkah yang disepakati bersama antara kedua pihak belum diimplementasikan: gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir sebelum dimulainya negosiasi,” kata Ghalibaf, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Jumat, (10/04/2026).
“Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai,” tambahnya.
Pernyataan itu menegaskan posisi Iran yang mengaitkan agenda diplomatik dengan situasi keamanan regional, khususnya konflik yang masih berlangsung di Lebanon akibat serangan Israel. Tehran menilai penghentian serangan menjadi syarat mutlak demi menciptakan ruang dialog yang kondusif.
Sikap serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pembicaraan telepon dengan Duta Besar Iran yang ditunjuk untuk Lebanon, Mohammad Reza Shibani. Dalam komunikasi tersebut, Araghchi menekankan bahwa AS harus menjalankan komitmen terkait gencatan senjata, termasuk memastikan kesepakatan tersebut mencakup wilayah Lebanon.
Ia juga mengecam berlanjutnya serangan Israel yang dinilai bertentangan dengan semangat perdamaian dan dapat menghambat proses diplomasi yang sedang diupayakan kedua negara.
Jika dua syarat itu tidak segera dipenuhi, negosiasi yang semula diharapkan menjadi langkah awal meredakan ketegangan antara Iran dan AS berpotensi tertunda. Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa dinamika konflik di Lebanon memiliki pengaruh langsung terhadap agenda diplomasi internasional di kawasan Timur Tengah. []
Redaks05

